Ayah

Ayah

“Nanti malam jadi ke rumah ya.”

Kata-kata itu mengiangiku selama perjalanan pulang. Aku bingung. Belum pernah seumur-umur bertemu keluarga kekasihku. Aku malu. Tak ingin kekasihku jadi bahan ejekan keluarganya karena berpacaran dengan orang sepertiku. Meski kuyakin dia tetap tegar kalau ini terjadi. Pernah sekali kutanya apa dia mencintaiku. Dia tersenyum. Memegang erat tanganku dan berkata, “Jangan meragu, sayangku. Mari berjuang bersama meraih mimpi. Aku tulus mencintaimu.”

Setibanya di rumah sore hari, kuobrak-abrik lemari mencari baju terbagusku. Kuminta ibuku yang sedang menjaga warung menyetrika pakaian sampai halus. Aku begitu menyanyanginya. Dialah pahlawan yang nyata bagiku. Tersenyum dia melihat tingkah lakuku. Aku mandi. Kubersihkan ujung rambut hingga ujung kuku kakiku sebersih-bersihnya.

Ibu masih menyetrika. Aku ke kamar. Minyak wangi kusemprot. Minyak rambut kuoles ke rambut agar klimis mengkilap dan tak goyah kerapiannya. Handuk masih melingkar di tubuh. Aku keluar dengan aroma semerbak mewangi dengan rambut klimis nan rapi. Ibu tersenyum lagi melihatku begini. Mungkin dia tak menyangka waktu cepat berlalu hingga putra semata wayangnya bisa jatuh cinta. Diberikannya baju dan celana yang sudah sangat halus ia setrika. Ibu tahu aku sedang sangat gugup.

Iya, aku gugup. Sangat gugup. Tepatnya perasaanku berkecamuk campur aduk. Senang akan bertemu orangtua kekasihku. Takut apabila mereka mencibir keadaanku. Bukan itu yang kutakutkan, aku sudah terbiasa dengan itu. Aku takut justru nanti kekasihku yang menjadi obyek penderita. Aku sedih kalau itu terjadi. Sudah lelah kusandang aib ini sepanjang hidupku. Selesai mengenakan baju dan celana, aku bercermin. Bersyukur betapa Tuhan begitu baik memberiku fisik yang tampan nan rupawan. Terima kasih, Tuhan.

“Cepat pergi sana, nanti terlambat. Jangan naik bis kota ya, masa sudah rapi begini naik bis kota, nanti parfummu tercemar bau keringat orang. Ini uangnya buat naik taksi.”

Ternyata ibu masih bisa bercanda. Dengan kondisi ekonomi yang seadanya tetap ia berikan uang untuk menyenangkan anaknya. Kucium tangannya. Segera kubergegas melintasi gang kecil yang berkelok dan sampai juga di pinggir jalan raya. Sungguh beruntung aku hari ini. Tepat keluar gang ada taksi lewat. Seketika kupanggil taksi itu. Aku pergi ke rumah kekasihku.

Sesampainya di depan gerbang rumahnya. Takjub sejenak kulihat bangunan begitu megah. Kubayangkan seperti sebuah puri atau istana di cerita-cerita Disney. Di dalamnya tinggal satu keluarga bahagia. Banyak pelayan dan penjaga siap melayani dan melindunginya. Tinggal pula seorang putri cantik jelita yang mengadakan sayembara siapa pria mampu meluluhkan hatinya akan menjadi suaminya. Khayalanku buyar ketika pengemudi taksi minta bayaran. Aku lupa belum memberinya uang karena lebih dulu terkagum-kagum kemegahan rumah yang ditinggali kekasihku. Selesai membayar, taksi meninggalkanku sendiri terpaku di depan gerbang menjulang tinggi.

“Aku datang ‘tuk meminangmu, tuan putri. Kuda yang membawaku ke sini kabur, dia terlalu takut menghadapi pengawal istanamu, ya tuan putri. ‘Kan kuhadapi sendiri pengawal-pengawalmu ini, ya tuan putri.” Teriakku dalam hati dengan penuh percaya diri.

“Maaf, dik, kami tidak menerima sumbangan panti asuhan.”

“Saya Bagas, Pak, saya pacarnya Putri.”

“Ooh, Mas Bagas itu ternyata kayak gini to. Maaf, Mas. Hehehe. Monggo, silakan masuk.” Satpam itu membukakan pintu gerbang. Pelan kulangkahkan kaki.

“Mobilnya diparkir di dalam saja, Mas.”

“Hehehe, saya belum punya, Pak.” Aku tahu satpam itu sedang mencandaiku.

Langsung kutuju depan pintu rumahnya yang terbuka. Lagi-lagi kuterpaku diam. Sepintas kulihat isi rumahnya begitu mewah. Ruang tamu begitu luas. Furniturnya juga terlihat sangat mahal. Dinding ruang tamu terpampang foto kelurga. Ada Putri yang sedang duduk tersenyum di sana. Sungguh anggun. Di sampingnya juga duduk kakaknya mengenakan jas hitam yang tampak sangat gagah. Tersungging senyum wibawa ayah Putri yang berdiri di belakang anak-anaknya. Ia nampak wibawa sekaligus menyeramkan, setidaknya menurutku begitu. Kumisnya tebal, rambut kepalanya tanggal di tengah, sorot matanya tajam. Ibu Putri berdiri di sampingnya. Wajahnya terlihat dia adalah seorang ibu rumah tangga yang sabar.

“Mas, tolong bawakan koper di bagasi mobil ke kamar ya.” Seseorang yang mirip dengan kakak Putri yang di foto itu menyapaku.

“Eh? Mas Katon sudah datang dari Yogyakarta. Mas Katon ke sini bawa pembantu juga. Mentang-mentang Simbok sudah tua, gini-gini juga masih kuat lho, Mas Katon.”

“Lho, Mbok, dia bukan pembantuku. Aku kira dia pembantu baru di sini.” Mas Katon terlihat sedikit terkejut dan bingung.

“Bukan, Mas Katon, dia bukan pembantu kita kok. Heh, kamu siapa? Mau maling ya?” Seorang ibu tua itu memelototiku. Aku bingung.

“Mmmmm, saya Bagas, Mbok, Mas Katon. Saya pacarnya Putri.” Aku mengenalkan diri.

“Oh, kamu pacarnya Putri ternyata. Maaf ya, aku kira kamu pembantu di sini. Hehehe.” Mas Katon menjabat tanganku.

“Oalaaaah, ini to yang namanya Bagas. Silakan masuk, Mas. Mbak Putri masih di kamarnya. Sebentar, saya panggilkan.” Kata Simbok.

Aku dipersilakan duduk di kursi ruang tamu. Sungguh nyaman kursi ini. Empuk. Lebih empuk dari kasurku yang terbuat dari kapuk. Tak selang lama, Putri menyambutku.

“Bagas, kamu sudah datang.”

“Iya, Put.”

“Ayo ke meja makan, makanannya sudah siap”

“Iya.”

Kami bergegas menuju meja makan. Meja yang cukup besar. Simbok mulai membawa menu makan malam. Malam ini menu yang disajikan adalah 2 ayam kampung yang dipanggang, sambal terasi, dan urap barbagai macam sayuran. Minumnya juga beragam, ada es kelapa muda, es teh manis, es jeruk, dan susu. Ada juga buah-buahan semacam apel, jeruk, mangga, yang semuanya tinggal makan karena sudah dikupas dan dipotong. “Sungguh menu yang sangat empat sehat lima sempurna,” bisikku dalam hati.

Tak selang lama, ibu Putri datang. Diikuti Mas Katon dengan istrinya. Mereka berkumpul di meja makan. Aku tersenyum dan menyalami mereka satu-satu. Kami bercengkerama basa-basi barang sebentar hingga akhirnya datang ayah Putri, Pak Soemarmo. Dia baru terakhir bergabung karena masih ada pekerjaan yang harus ia selesaikan di ruang kerjanya.

Kami mulai makan. Nasi dan lauk yang akan kumakan diambilkan Putri. Sungguh istri idaman sekali dia. Seketika setelah memanjatkan doa, kami mulai makan. Selagi makan, diselingi obrolan kecil. Aku menjadi pusat perhatian kala itu. Karena aku orang baru di sana. Mereka mulai menanyaiku bermacam-macam. Bagaimana kuliahku, bagaimana bisa bertemu dan pacaran dengan Putri. Putri adalah teman satu kelasku di kampus. Pertanyaan semacam keseriusan akan hubunganku dengan Putri kujawab dengan mantab. Iya, aku serius memacari Putri. Aku ingin dia jadi istri dan ibu dari anak-anakku kelak. Putri juga meyakinkan bahwa ia sudah mantap memilihku. Keluarga Putri menatapku sinis. Kurasa mereka tak suka padaku dan tak setuju anaknya berpacaran denganku. Sampai akhirnya terucap juga pertanyaan yang kuharap tak ditanyakan.

“Ayahmu kerja apa, Bagas?”

***

Aku baru lulus SMA. Ingin sejenak liburan bersama teman-teman ke Jakarta sebelum mulai mencari kerja di kampung. Di Jakarta, aku menginap di tempat temanku yang usianya lebih tua beberapa tahun. Dia kuliah di Jakarta. Kebetulan di tempat kontrakannya ada satu kamar kosong. Jadi aku menumpang beberapa hari di sana. Sementara teman-temanku yang lain tinggal di rumah saudaranya.

Kami berjalan-jalan menikmati suasana ibukota. Temanku yang kuliah di Jakarta itu juga ikut. Kebetulan perkuliahan sedang libur. Kami merasa beruntung dia ikut, dia bisa jadi tour guide agar kami tak tersesat.

Malamnya aku diajak mengunjungi sebuah diskotik. Katanya belum ke Jakarta kalau belum mengunjungi tempat ini. Aku menurut saja apa yang dia ucapkan. Aku disuruhnya memakai bajunya. Dia bilang baju-bajuku kurang sesuai untuk berkunjung ke sana. Kukenakan bajunya, ternyata agak terlalu kecil baju itu. Lekuk tubuhku pun terlihat. Baju itu juga agak terbuka. Aku sedikit canggung dan malu karena tidak terbiasa. Tapi dia menilai aku cocok dengan baju seperti itu. Terlihat lebih cantik katanya.

Aku masuk ke diskotik itu. Ternyata pengunjungnya memang seperti itu semua penampilannya. Bahkan ada yang lebih terbuka dan lebih ketat dariku. Aku duduk diam di sana. Tak bisa kunikmati tempat itu. Suara musik terlalu kencang, dan aku tak suka musik seperti itu. Asap rokok memenuhi ruangan membuatku makin tak betah. Aroma minuman keras menyeruak, membuat pusing. Temanku bilang nikmati saja, mumpung masih di Jakarta. Aku hanya bisa duduk terdiam. Tak memesan apa-apa. Temanku memesan minum yang aku tak tahu apa namanya.

Tiba-tiba ada dua lelaki menghampiri. Kami berkenalan. Salah satu dari lelaki itu menggodaku untuk minum minuman yang beralkohol itu. Aku tak mau. Tapi setelah beberapa kali digoda, aku takluk. Aku mau minum. Tapi hanya sekali saja kataku. Mereka mengiyakan. Selesai menenggaknya, tenggorokan terasa panas, kepala pusing. Setengah sadar kutenggak lagi beberapa. Aku makin pusing.

Yang kuingat setelah itu aku diantar pulang oleh salah satu lelaki itu. Aku diantar masuk kamar. Aku masih ingat dibaringkan ke kasur. Bajuku dilepas satu per satu. Mau melawan tapi aku tak punya tenaga untuk melakukannya. Aku sangat pusing.

Siangnya aku baru terbangun. Kepala masih pusing sedikit. Aku kaget. Tak sehelai benangpun melekat di tubuh. Pangkal paha terasa sakit. Sosok lelaki yang semalam mengantar pulang sudah tidak ada. Aku langsung memakai pakaian dan keluar kamar.

Kudapati Nina, temanku itu duduk menonton TV. Kutanyakan perihal lelaki yang mengantarku semalam. Katanya pulang tadi pagi. Dia juga sudah meninggalkan beberapa puluh ribu rupiah. Katanya untuk tutup mulut kalau ada apa-apa padaku. Sial, aku juga lupa siapa namanya. Kuceritakan pangkal pahaku sakit. “Memang begitu, Asih, baru pertama ya?” Katanya tersenyum. Aku langsung kaget. Tubuhku terasa lemah. Tak terasa airmata mengalir. Aku telah berbuat hal yang menjadi ibadah untuk pasangan yang sudah resmi menikah.

Kubilang padanya aku mau mencarinya. Tapi percuma kata Nina. Kemungkinan besar mereka adalah anak pejabat tinggi negeri ini. Tak mungkin aku minta tanggung jawab mereka. Aku pasti disangka sudah gila. Tangisku makin menjadi.

Aku beranjak ke kamar mandi. Dalam mandi aku menangis. Aku menyesal pergi ke tempat seperti itu. Aku langsung memutuskan kembali ke kampung seketika itu juga. Aku pamit pada Nina. Aku bilang padanya, “Tega kamu ya!” Dia hanya tersenyum, “Memang begini kehidupan Jakarta, jangan kaget. Nikmati saja.” Tak kuterima uang yang dia berikan padaku. Aku jadi benci padanya. Aku pulang dengan amarah membuncah. Tapi tak tahu harus dilampiaskan ke mana amarahku.

Beberapa bulan berselang terjadi keanehan dalam tubuhku. Aku tak lagi mengalami menstruasi sebagaimana biasanya setiap sebulan sekali. Aku takut. Perut membuncit. Berat badan bertambah. Payudara mengencang. Aku semakin takut. Ayah melihat dan mempertanyakan perubahan bentuk tubuhku. Aku menceritakan semuanya. Ayahku berang. Yang membuatnya semakin berang adalah aku tak tahu siapa ayah dari jabang bayi yang kukandung ini.

Malam itu kuputuskan untuk kabur. Aku tak mau keluargaku menanggung malu atas perbuatanku. Aku tak ingin nama ayahku yang seorang lurah tercoreng karena anak semata wayangnya hamil di luar nikah dan tak tahu siapa ayahnya.

Aku memutuskan ke Jakarta untuk mengadu nasib. Sekaligus berharap siapa tahu Tuhan mempertemukanku dengan orang yang menanam benih di rahimku ini. Banting tulang aku mencari uang. Demi kelanjutan hidup si calon keturunan.

Hingga kelahiran anakku, tak juga aku dipertemukan dengan lelaki itu. Aku tetap tegar. Aku yakin mampu membesarkan anak ini sendiri. Kunamai ia Bagas. Siang-malam aku bekerja mencari uang. Selama aku bekerja kutitipkan Bagas pada pemilik kontrakan yang kusewa.

***

Tangan menarik gas dengan sangat lemas. Aku malu pulang. Pelan motor ini melibas jalan. Selain malu dan lemas, melaju pelan sebab jalan mencekam. Jalan dipenuhi mahasiswa berdemonstrasi. Mereka konvoi menuju gedung DPR/MPR menuntut Presiden Soeharto turun jabatan karena krisis tak kunjung usai. Krisis ini menjalar sampai ke tempat kerjaku. PHK besar-besaran merupakan satu-satunya langkah paling rasional agar neraca keuangan perusahaan seimbang. Dan aku adalah salah satunya yang jadi korban PHK.

“Mas Bagas tumben sudah pulang.” Sapa satpam membukakan pintu gerbang. Aku tak menjawab. Hanya menyunggingkan senyum kecut ke arahnya.

Usai parkir di garasi, segera kumasuk rumah. Kudapati istriku menonton TV di ruang tamu. Acara TV menayangkan demonstrasi besar-besaran di mana-mana. Tentara ABRI siap siaga berjaga-jaga di titik-titik penting negeri ini.

“Alhamdulillah, kamu sudah pulang, Mas. Itu demo di mana-mana, aku takut.” Istriku menyadari aku sudah berdiri di belakangnya. Aku duduk di sampingnya. Mengelus-elus perut istriku yang berisi calon anak pertama kami yang sudah enam bulan tumbuh di dalam rahimnya.

Aku tak sanggup menceritakan kabar buruk ini. Takut dia kecewa. Aku diam. Sangat ingin kumengungkapnya. Tapi takut terkejut dan berdampak buruk pada janin yang dia kandung. Berita suhu politik ini sungguh memuakkan. Aku sudah tak sabar lagi. Kukatakan aku dipecat. Kini aku pengangguran. Benar dugaanku, dia terkejut, meski sedikit.

Dengan penuh kesabaran dia menguatkanku. Dia meyakinkan kita bisa melewatinya. “Kita pasti bisa, sayang. Yang sabar ya, kita pasti bisa.” Senyumnya begitu menentramkan. Senyum itu menguatkan tekadku untuk berjuang bertahan hidup.

Malam sudah larut, istriku tidur pulas. Belum bisa kupejamkan mata sedetik pun. Hanya berbaring melamun di sampingnya. Aku haus. Beranjak mengambil minum di kulkas yang terletak di dapur. Kamar kami di lantai dua. Aku menuruni tangga. Kulihat ayah mertuaku baru pulang. Mungkin ada rapat direksi membahas pengurangan jumlah karyawan. Mungkin juga menunggu suasana jalan aman, baru pulang. Demonstrasi berdampak terjadinya kerusuhan, penjarahan, perampokan, tak sedikit ada juga pemerkosaan.

Mertuaku menyadari kehadiranku. Aku dipanggilnya. Dia duduk di kursi depan TV. Segera setelah minum, kupenuhi panggilannya. Perusahaannya besok akan memberhentikan ribuan karyawan, katanya. Dia tanya keadaanku dan perusahaan tempat aku bekerja. Kuceritakan semuanya.

Dia nampak kecewa. Ingin marah ia tahan. Berkata dia pada awalnya tak setuju anaknya menikah denganku. Latar belakang keluargaku tak jelas, sama seperti pekerjaanku. Tak berprospek tinggi, katanya. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Anaknya begitu yakin dan mampu meyakinkannya bahwa aku adalah pilihan terbaiknya. Dia takut aku akan membuat anaknya kecewa. Dan ketakutannya terjadi hari ini. Istriku memang kecewa, tapi dia menguatkanku untuk tetap terus berjuang dan tetap setia menemaninya.

Selama ini kami tinggal di rumah mertuaku. Aku belum mampu beli rumah sendiri. Tabunganku belum cukup. Dulu orangtuanya menawarkan dibangunkan rumah baru untuk kami tinggali berdua. Istriku menolak. Aku juga pernah ditawari bekerja di perusahaan ayahnya, dilarang juga oleh istriku. Istriku ingin kami benar-benar berjuang dari bawah. Mendapat pekerjaan dari hasil usaha sendiri.

Ayah mertuaku menghela nafas sangat panjang. Aku dipersilakannya meninggalkan rumah. Dia takut keadaanku yang pengangguran berdampak buruk pada istri dan calon bayiku. Mungkin keputusan ini sudah ia pikirkan matang-matang jauh hari, tinggal menanti waktu yang tepat. Alasannya cukup bisa kuterima. Istriku adalah anaknya. Dia tentu lebih memprioritaskan anaknya daripada menantunya yang hanya menumpang di rumahnya sejak dua tahun lalu.

Malam itu juga kupergi meninggalkan rumah. Kukemasi seadanya barang-barangku, semuatnya dalam tas. Kukecup kening istriku. Kukecup pula perutnya sambil berbisik, “Sampai jumpa lagi, jagoanku.” Istriku masih tetap tidur. Satpam rumah kulihat sedang tidur di pos tempatnya berjaga. Pelan kubuka sendiri gerbang rumah agar tak menimbulkan suara dan membuatnya terjaga dari tidur.

Dalam perjalanan yang entah ke mana, terbersit pikiran jahat menjarah toko yang kulalui. Namun teringat wejangan almarhum ibuku untuk selalu jujur dan berbuat baik. Kuurungkan niat jahat itu. Perjalanan berlanjut sampai di depan masjid. Aku bermalam di sana. Sebelum tidur, aku sembahyang. Entah sembahyang apa. Niatku hanya berdoa agar diberi jalan.

***

Tiga bulan berlalu, Soeharto sudah lengser. Namun suhu politik masih panas. Krisis belum usai. Selama itu kulalui hariku jadi kuli pasar. Ke sana ke mari mencari rezeki. Asal halal apapun kulalui. Hingga satu hari bertemu teman semasa kuliah. Dia dulu juga korban PHK. Kini bekerja di rumah sakit. Aku ditawarinya kerja di sana. Langsung kuiyakan, meski sebagai office boy. Tapi tidak terlalu melelahkan. Gajinya lebih tetap dan lebih tinggi daripada kuli pasar. Beberapa hari aku mulai terbiasa bekerja di sana. Datang pagi pulang malam. Menyapu dan mengepel lantai rumah sakit bersama pekerja yang lain.

Suatu siang jam istirahat, sedang makan di warung depan rumah sakit. Sedan Mercy melintas memasuki rumah sakit. Ingat betul aku mobil itu. Kuperhatikan mobil itu dengan seksama. Seorang ibu hamil keluar pelan. Samar wajahnya mirip istriku. Dia dibopong beberapa petugas rumah sakit memasuki rumah sakit.

Tak kuselesaikan makanku. Usai bayar dan minum, langsung ke sana. Untuk memastikan, kutanya dulu temanku yang petugas resepsionis apakah ada pasien atas nama Putri Soemarmo. Benar dugaanku. Dia mengiyakan. Dari laporannya, istriku mau melahirkan. Segera setelah diberi tahu ruangan di mana istriku akan melahirkan, aku langsung berlari ke sana.

Dalam lorong yang cukup panjang, dari jauh kulihat Pak Soemarmo, istrinya, dan Simbok. Kusalami mereka. Putri sudah masuk ruang persalinan. Kulihat Pak Soemarmo memandangku sinis yang datang mengenakan seragam petugas kebersihan rumah sakit. Tak lama, seorang suster keluar. Ia menanyakan apakah Bagas ada. Katanya, Putri berteriak-teriak memanggil-manggil nama Bagas. Aku bilang padanya akulah Bagas. Seketika aku akan masuk, tangan Pak Soemarmo menghalangiku.

“Pak, tolong biarkan saya bertemu dengannya!”

“Ngapain kamu ke sana!” Gertaknya menahan langkahku.

“Saya tahu bagaimana rasa pahitnya hidup tanpa sama sekali mengenal siapa ayahku!”

“Putri tak membutuhkanmu!”

“Izinkan saya merawat Putri dan anak kami dengan cara dan usaha saya sendiri. Saya mohon, Pak.”

“Aku bisa merawatnya! Aku juga bisa merawat cucuku sendiri!”

“Saya tak ingin anak saya merasakan hal yang sama seperti saya! Itu saja!” Aku menerobos masuk ke ruang bersalin. Menemui istriku yang seketika tersenyum melihat kedatanganku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s