Pejuang Perang

Dorr!! Dorr!! Dorr!!

“Aaaaaarrrggghh!!!”

Matahari belum terbit. Ayam belum berkokok. Suara tembakan membahana. Tercium aroma darah segar dan asap sisa tembakan senapan. Hawa dingin dan darah memanas terasa. Terlihat kilatan senapan yang ditembakkan. Terdengar suara orang saling berteriak. Ada yang kesakitan, ada yang masih semangat, ada yang memberi perintah.

“Ada yang tertembak! Tepikan dia dulu!”

“Siap, Komandan!” Teriak para prajurit mengiyakan titah komandannya.

Baku tembak masih berlangsung. Pejuang Indonesia melawan tentara Jepang. Mereka hanya bermodalkan peralatan persenjataan seadanya. Pisau, golok, tombak, clurit, bambu runcing membantu mereka mengusir pengganggu asing ini. Suara-suara penyemangat saling bersahutan. Membuat pejuang Indonesia makin semangat menghadapi Jepang yang senjatanya lebih canggih daripada senjata mereka sendiri.

Tembakan mereda. Nampaknya Jepang mulai kehabisan amunisi. Melihat peluang ini, pejuang Indonesia semakin berani maju merangsek ke jantung pertahanan Jepang. Jepang semakin terdesak. Beberapa di antara mereka kabur melarikan diri. Yang tersisa masih bertahan. Mencoba melawan dengan senjata seadanya. Memakai pistol laras pendek, belati, pedang, dan sebagainya yang bisa jadi senjata.

Tentara Jepang sudah terpojok. Jumlahnya tak sebanding jumlah pejuang Indonesia. Hampir dua kali lipat. Mereka terkepung. Pejuang Indonesia melingkari dan memutari mereka pelan. Saling menunggu waktu yang tepat ‘tuk saling menyarang. Tak disangka, tentara Jepang yang tersisa melakukan harakiri seketika pejuang Indonesia akan menerkam mereka.

Pertempuran di lembah itu usai. Komandan Indonesia memerintahkan anak buahnya mengubur tentara Jepang dan pejuang Indonesia yang meninggal. Dia perintahkan juga untuk tak mengambil apapun benda milik Jepang. Mereka juga diperintah untuk membawa pejuang Indonesia yang terluka. Mereka yang terluka dan masih bisa diselamatkan dibawa ke tempat pengobatan. Sementara sisa pejuang yang selamat ia perintahkan tetap siaga dan berjaga-jaga di titik tertentu bila sewaktu-waktu ada serangan mendadak.

Matahari mulai bersinar. Orang-orang masih sibuk mengubur korban meninggal. Ada yang menyusur lembah berjaga-jaga dan mengawasi di lokasi tertentu. Sisanya dalam perjalanan membawa luka. Mereka dibawa ke tempat pengobatan. Beragam luka yang mereka derita. Darah mengalir di sekujur tubuh mereka. Mengaduh-aduh kesakitan ketika dibawa ke tempat pengobatan.

***

“Nak, sana berperanglah. Apapun yang terjadi, kamu pahlawan kami orangtuamu dan bangsa ini. Kami bangga padamu.”

Bercengkerama seorang calon pejuang bersama orangtuanya. Di suatu senja di teras rumah. Selepas mandi yang sebelumnya bertani di sawah. Singkong rebus dan kopi hitam kental manis mewarnai senja mereka. Sang anak sedari tadi masih melamun. Bimbang ‘tuk pergi ke medan perang. Usia baru menginjak angka duapuluhan. Seorang diri ia temani orangtuanya. Sebagai putra tunggal, enggan ia tinggalkan orangtuanya untuk berperang.

Sudah senja usia mereka. Rasanya belum puas merawat anaknya. Baru diamanati Tuhan mendapat keturunan saat berusia medio empatpuluhan. Begitu bahagia mereka menyambut kelahiran anak pertama. Diadakannya selamatan mengundang tetangga untuk turut berbahagia. Meski ketika itu musim paceklik, selamatan tetap berjalan. Selamatan yang seadanya. Selamatan yang sederhana. Selamatan yang bahagia.

Mereka rawat baik-baik anaknya. Tak dibiarkan satu tetes airmata meleleh di pipinya. Tak dibiarkan satu ekor nyamuk menghisap setetes darahnya. Diajarinya bagaimana bercocok tanam dan pencak silat saat ia beranjak besar. Hanya itu ilmu yang bisa mereka ajarkan. Sungguh bahagia kehidupan mereka.

Hingga satu siang yang terik, datang pengumuman mencengangkan. Isinya siapa pemuda laki-laki di kampung itu wajib turut serta perang melawan Jepang. Sementara yang perempuan wajib menjadi perawat yang mengurus pejuang Indonesia yang terluka. Beragam reaksi menanggapi pengumuman hasil rapat sesepuh kampung itu. Ada yang semangat membumbung tinggi karena menjadi panji membela negeri. Ada yang sedih dan pesimis harus meninggalkan kampung, yang kemungkinan lain juga tewas di medan perang.

Untuk yang sedih, pesimis, dan enggan, mereka mulai ogah-ogahan menjalankan aktivitas keseharian. Mereka tetap pergi ke tempat beraktivitas. Namun di sana hanya melamun. Kerja melambat. Yang berjualan di pasar tak lagi sering lempar senyum pada orang lewat. Tak lagi menjajakan dagangannya. Ada penggembala kambing hanya duduk termenung di bawah pohon. Sementara kambing-kambingnya dibiarkan dan dibebaskan mencari rumput sendiri untuk dimakan. Yang di sawah hanya duduk-duduk saja di gubuk. Melamun. Salah satunya si anak tunggal yang kini sudah beranjak remaja dan membantu orangtuanya membajak sawah.

Orangtuanya juga sedih bila itu terjadi. Putra semata wayangnya pergi berperang. Meski ada kemungkinan kembali dengan selamat. Sedih begitu cepatnya waktu memisahkannya dengan putra kesayangannya. Mereka mencoba pasrah. Mencoba ikhlas. Setiap saat selalu berdoa untuk keselamatan anaknya kelak di medan perang.

Sementara anaknya, ia enggan meninggalkan orangtuanya. Masih ingin ia berbakti pada mereka secara langsung. Ingin ia bahagiakan orangtuanya dengan caranya sendiri tanpa perlu ikut perang. Hingga percakapan senja itu berlanjut.

“Mungkin sampai di sini Tuhan menitipkanmu padaku, Nak.” Kata bapak.

“Inilah takdir Tuhan. Ikuti saja.” Tambah sang ibu.

Sang anak diam. Tak menjawab sepatah kata pun. Besok adalah hari keberangkatan ke medan perang. Tak terasa airmata mengalir di ketiga pasang mata keluarga itu.

Pagi menjelang. Ayam berkokok sedari tadi. Hanya satu tekadnya, ia harus memenangkan perang dan pulang selamat tanpa cacat. Sudah tak sabar ia ingin segera perang melawan Jepang itu selesai. Usai sungkem pada kedua orangtuanya, ia berangkat. Dalam perjalanan, hanya satu pesan orangtuanya yang ia ingat dan ia patrikan dalam hati dan ingatannya,

“Nak, sana berperanglah. Apapun yang terjadi, kamu pahlawan kami orangtuamu dan bangsa ini. Kami bangga padamu.”

***

“Aku di mana?” Bertanya ia pada suster yang kebetulan lewat.

“Oh, sudah siuman rupanya. Kamu ada di tempat perawatan.” Setelah menjawabnya lalu ia pergi.

Ia perhatikan tubuhnya. Ada beberapa jahitan. Ada beberapa perban membalut tubuhnya. Melihat begitu banyak luka di tubuhnya. Begitu perih luka ia rasa. Belum pernah ia rasakan sakit seperti ini. Teringat ia pada orangtuanya. Apakah mereka masih hidup? Apakah mereka masih mendoakan keselamatan baginya? Ia merasa sedih. Pikirannya begitu liar. Pikirnya orangtuanya sudah meninggal. Itulah mengapa ia bisa tertembak Jepang. Orangtuanya tak lagi mendoakan keselamatannya karena sudah meninggal. Airmata mengaliri pipinya. Dalam tangis ia doakan yang terbaik bagi bapak dan ibunya.

Ia perhatikan sekeliling. Banyak darah tercecer di lantai. Baunya sungguh amis menusuk hidung. Erangan-erangan rasa sakit tak tertahankan saling bergantian bersahutan terdengar dari tenda-tenda di luar. Di sampingnya ia lihat seorang pemuda dipotong lengan kirinya oleh dokter menggunakan gergaji. Tak bisa ia bayangkan betapa sakitnya itu melalui teriakan dan pandangan mata pemuda itu yang mengarah padanya. Ia berpaling ke atas agar tak lagi melihat penderitaan pemuda itu.

Dalam pandangannya ke langit-langit tenda, ia merenung. Bertanya-tanya dalam renungan. Sampai kapan penderitaan ini berakhir. Sampai kapan perang ini berakhir. Kenapa mesti ada perang. Kenapa orang-orang ditakdirkan saling bunuh satu sama lain. Apa yang mereka perebutkan. Kalaupun berakhir, bisakah mereka melanjutkan hidup. Yang berapa di antaranya tak lagi lengkap anggota tubuhnya. Mampukah ia dan orang-orang yang selamat ini menghapus kenangan kelam ini. Akankah bangsa ini menghargai jerih payahnya. Akankah anak-anak generasi ke depan menghargai dan menghormati betapa beratnya kemerdekaan ini direbut.

“Bagaimana keadaanmu?” Tiba-tiba datang komandan bersama seorang suster.

“Aku baik-baik saja, Komandan.”

“Bagus. Tinggal beberapa langkah lagi kita akan menang. Segera setelah pulih, kembalilah ke barisan dan kita hancurkan Jepang.”

“Aku tak mau, Komandan. Aku mau pulang saja.”

Sang komandan tak mengacuhkannya. Pergi keluar tenda. Hanya suster yang masih ada. Sang pejuang terlihat geram atas sikap komandan yang tak mengacuhkannya. Lalu ia pandang suster dan berkata,

“Sus, aku tak mau berperang lagi.”

“Sudah. Sudah. Sekarang tidur saja. Istirahat, biar lekas pulih.” Berkata suster sambil menyelimuti pejuang perang itu.

Merasa suster juga tak mengacuhkannya, ia mencoba tidur. Ia pejamkan mata. Tetap tak bisa tidur. Ia putar tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Tak juga ia bisa tidur. Ia pun memandang langit-langit tenda. Dipejamkan matanya lagi. Ia ingat masa-masa indah bersama orangtuanya. Tak lama berselang ia tertidur.

Dalam mimpi bertemu orangtuanya. Akhirnya ia pulang dengan selamat. Mereka menyambutnya penuh sukacita. Para tetangga juga menyambut penuh rasa bangga. Bak seorang bintang terkenal ia di sana. Banyak yang bilang tak sia-sia ia berkorban. Bangsa ini telah merdeka. Bekas-bekas luka yang menempel permanen di tubuh akan jadi saksi betapa berat perang kala itu. Kehidupan ekonomi kampungnya mulai menggeliat. Tanaman hasil pertanian dan perladangan makin banyak yang meminati. Hasil-hasil ternak juga tak ketinggalan semakin banyak yang tertarik. Sungguh bahagia ia melihatnya.

Ayam berkokok. Matahari masih malu menyebar sinarnya. Ia bangun dari mimpi indahnya. Tersenyum mengingatnya. Tak sabar ia ingin menyudahi perang dan melihat mimpinya menjadi kenyataan. Tiba-tiba gaduh suara terdengar di mana-mana. Ia terkejut. penasaran ada apa gerangan terjadi di luar sana. Beranjak ia dari tempat tidur. Mengintip keadaan luar melalui sela-sela pintu tenda. Ia lihat tentara Jepang menyerang. Tanpa menunggu lama ia masuk ke tenda mengambil barang apa saja yang bisa dijadikan senjata. Kemudian melompat keluar sambil berteriak dengan penuh semangat.

“Merdeka atau matiii!!!!”

Dorr!! Dorr!! Dorr!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s