Tempurung

Sudah Aman

Dahulu kala, kura-kura tidak mempunyai tempurung. Kelinci lah yang punya. Kenapa sekarang kura-kura punya tempurung? Begini ceritanya:

Alkisah pada suatu hari di suatu hutan hidup seekor kelinci dan seekor kura-kura. Mereka adalah sahabat karib. Saling membantu ketika salah satu sedang mengalami kesulitan. Sering bermain dan berlarian di hutan. Di hutan itu, ada tradisi lomba lari. Lomba itu diikuti oleh hewan-hewan yang ada di hutan. Seperti singa, harimau, monyet, kuda nil, gajah, dsb. Kelinci dan kura-kura juga selalu mengikuti lomba lari itu. Dari pertama mereka mengikuti lomba itu, kelinci lah yang selalu keluar sebagai juara satu. Sementara kura-kura selalu menjadi nomor dua.

Hingga beberapa kali lomba lari, kelinci selalu juara satu. Kura-kura masih juara dua. Terlintas sekilas di pikiran kura-kura yang menyebabkan kelinci selalu menang adalah tempurung yang selalu ia bawa kemana-mana. Ia membayangkan jika suatu saat ia bisa memakai tempurung itu, ia pasti akan menjadi juara lari dan mengalahkan kelinci.

“Seandainya tempurung itu kupakai, pasti aku menang!” Bisiknya dalam hati.

Sehari menjelang lomba lari digelar, kelinci dan kura-kura berlatih bersama. Mereka berlarian di dalam hutan. Sore hari telah tiba. Mereka istirahat sebentar di pinggir sungai. Setelah itu mereka hendak pulang ke rumah masing-masing.

“Sampai ketemu besok ya, Kur. Aku pulang dulu.” Kata kelinci.

“Eh, iya, Ci. Latihan hari ini cukup melelahkan. Sampai jumpa besok ya.” Sahut kura-kura.

Kemudian mereka pulang ke rumah masing-masing. Dalam perjalanan pulang, pikiran jahat kura-kura itu melintas lagi. Dan kesempatan pun tiba. Kura-kura berencana di malam hari ia akan menyelinap ke rumah kelinci dan akan mencuri tempurungnya. Sesaat sebelum tidur, kelinci selalu melepas tempurung itu. Kemudian ia tidur. Tempurung itu berhasil diambil kura-kura. Ternyata tempurung itu sangat berat. Susah payah ia membawanya pulang.

Sesampainya di rumah, kura-kura segera memasang tempurung itu ke tubuhnya. Terlihat kura-kura sangat kesulitan. Selain berat, karena ukuran tempurung itu begitu sempit untuk dipasang ke tubuh kura-kura. Akhirnya tempurung itu terpasang di tubuh kura-kura. Ia sangat senang akhirnya bisa mendapatkan tempurung idamannya tersebut. Ia bercermin memandang begitu gagahnya ia kini memakai tempurung.

“Besok aku juara satu!” Berkata ia di depan cermin.

Malam semakin larut. Kura-kura sudah sangat mengantuk. Ia hendak tidur tapi ia harus melepaskan tempurung dulu. Apa yang terjadi? Tempurung itu sangat susah dilepas. Ia tidak bisa melepaskan tempurung itu. Tempurung itu menempel di tubuhnya dan tidak bisa dilepas. Ia kebingungan. Kura-kura menangis tersedu sedan. Ia menyesal telah mencuri tempurung sahabatnya.

Ia kemudian berniat kembali ke rumah kelinci. Siapa tahu kelinci tahu cara melepasnya. Apa yang terjadi? Untuk berjalan pun ia mengalami kesulitan. Jalannya kini menjadi sangat lambat. Tak seperti sebelum ia memakai tempurung. Tangisnya semakin menjadi-jadi. Ia semakin menyesali perbuatannya yang tidak terpuji. Malam itu hutan sangat sepi, semua hewan-hewan sudah tidur nyenyak. Hanya ada beberapa hewan malam yang berkeliaran.

Pagi harinya kelinci bangun. Ia terkejut melihat tempurungnya sudah tidak ada. Ia mencarinya di setiap sudut rumahnya. Barangkali semalam ia lupa menyimpannya di mana. Namun tidak juga ia temukan tempurungnya. Ia sedih. Tapi kemudian ia mengikhlaskan tempurungnya itu hilang.

Tok tok tok tok …” Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah kelinci.

“Siapa gerangan sepagi ini berkunjung ke rumahku?” Pikirnya dalam hati.

Setelah membuka pintu ia terkejut mendapati tempurungnya kembali. Namun tempurungnya kini bisa berbicara.

“Hai, Ci, maafkan aku telah mencuri tempurungmu. Kini tempurungmu tidak bisa aku lepas. Aku tak tahu mesti bagaimana lagi. Maukah kau memaafkan aku?” Kata sosok yang ada di dalam tempurung.

“Aku sudah mengikhlaskan tempurung itu. Aku pasti memaafkanmu. Lalu siapa sebenarnya dirimu?” Jawab kelinci penasaran.

Lalu muncullah kura-kura dari balik tempurung itu. Kura-kura baru saja tiba di rumah kelinci setelah melakukan perjalanan panjang semalaman.

“Ci, aku minta maaf telah mencuri tempurungmu ini. Kini tempurung ini tidak bisa dilepas. Aku menyesal, Ci.”

“Sudahlah, Kur. Aku sudah memaafkanmu. Lagian tempurung itu terlihat lebih pantas kau pakai.”

“Tapi, Ci, tempurung ini memberatkanku. Untuk berjalan pun aku kesulitan. Aku tidak mau ikut lomba lari hari ini. Aku pasti kalah. Dan hewan-hewan yang lain pasti menertawakanku. Aku malu, Ci. Aku ingin bersembunyi saja di hutan.”

“Ayolah, Kur. Kenapa mesti malu, Kur. Apapun yang terjadi kepadamu, kita tetap bersahabat. Aku akan selalu mendukungmu. Ayo kita berangkat ke tempat lomba lari sebelum terlambat.”

Kura-kura tersenyum. Dan akhirnya ia ikut lomba lari. Bersama-sama mereka berangkat ke tempat lomba lari dengan senang hati. Dan mereka tetap bersahabat.

Advertisements

2 thoughts on “Tempurung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s