Salah

Salah

Alam bawah sadar membawanya ke suatu tempat. Tempat gelap. Tak ada siapa. Tak ada apa. Melayang terbaring tak menyentuh permukaan. Atas bawah kiri kanan tak ada batas. Tak bisa kedua mata ia kedipkan. Benda hitam besar turun menghantam tiba-tiba. Menghimpit dan mendorong  terus ke bawah. Lemah tak berdaya. Tak kuasa menahan dan melawan. Berteriak tak ada suara. Benda beserta tubuhnya terus menghujam ke bawah.

Jancuuuk!”

Mata terbuka. Dikedip-kedipkan. Dikucek-kucek. Menggaruk rambut, yang tak gatal. Meraba-raba tubuh pelan. Diamati setiap jengkal tubuhnya. Dari jari kaki hingga ujung rambut tak luput dari rabaan. Mengelus-elus dada. Menguap. Tercium aroma mulut khas bangun tidur. Istri dilihatnya sedang pulas tidur. Nafasnya terdengar samar. Hangat berbalut selimut.

“Ma, bangun.” Tangan menepuk-nepuk pundak istrinya.

“Ma, bangun. Udah siang.” Mempertinggi nada. Memperkeras suara. Tangan menggoyang-goyang tubuh sang istri. Tak ada respon berarti.

“Mamaaaaaa! Banguuuunn!!!” Kencang berteriak.

“Hah! Ada apa, Paaaahh?” Terperanjat. Mata disipitkan. Perih jika maka terbuka normal.

“Udah siang itu lho!” Menunjuk arah jendela. Jendela yang terselimut gorden ditembus terang cahaya matahari. Menghangatkan isi kamar.

“Mamah capek, Pah! Ga pengertian pisan sama Mamah ih.”

“Capek? Seharusnya Papa yang capek, Ma! Papa baru pulang subuh tadi. Itu juga Mama ndak bangun. Masih ngorok!”

“Mamah semalem baru tidur jam 1-an, Pah! Perut Mamah sakit banget.”

“Halah alasan! Papa lapar nih, Ma. Ada makanan apa di dapur?” Turun ranjang. Menghirup nafas dalam-dalam. Mengeluarkannya pelan-pelan. Sedikit meregangkan otot-otot. Mengusap-usap wajah. Merapikan tatanan rambut.

“Aduh, ga ada apa-apa, Pah. Tadi pagi Mamah cuma nyiapin sarapan buat si Agus. Abis si Agus pergi ke sekolah Mamah tidur lagi.” Pelan-pelan turun dari ranjang. Pelan-pelan merapikan tempat tidur. Melipat selimut. Pelan-pelan berjalan. Memegangi perut yang kian membuncit. Menuju tempat suami berdiri.

Goblok! Sekarang udah jam 11 siang, Ma!” Tangan menunjuk arah jam yang digantung di dinding.

“Huss! Papah ih ati-ati kalo ngomong. Pamali!” Meraih tangan Bambang. Memegangnya erat-erat.

“Halah! Goblok ya goblok!” Masih meregangkan otot.

“Papah! Jangan ngomong goblog-goblog gitu ih. Mamah takut nanti kenapa-napa sama si dede.” Langsung memotong perkataan suaminya.

“Astaghfirullah. Iya, Papa khilaf, Ma. Maafin Papa ya dede kecil.” Mengusap muka. Berlutut. Mengelus-elus perut Euis. Menciuminya. Sesekali menempelkan telinga ke perut. Euis juga mengelus-elus rambut Bambang. Tangan yang satu lagi mengelus-elus perutnya. Bersama-sama mereka mengelus-elus perut yang berisi janin benih cinta mereka yang segera berbuah.

Yo wis, Mama istirahat aja. Biar Papa yang masak deh.” Bambang berdiri. Memegang pundak istrinya.

“Jangan atuh, Pah. Biar Mamah aja yang masak.” Tersenyum manis kepada suaminya.

“Mama bantuin aja ya, yang ringan-ringan aja.” Tersenyum manis kepada istrinya.

Keluar kamar. Berhadapan langsung dengan ruang keluarga. Hanya terisi karpet tipis, tivi 14 inch, foto pernikahan digantung di atasnya, dan foto putra pertama, Agus, ketika masih bayi.

Tak banyak barang bisa diletakkan rumah itu. Pelan mereka berjalan menuju dapur yang terletak di belakang. Beriringan. Bambang memapah istrinya pelan. Penuh kasih sayang. Bersama-sama meniti kehidupan di dalam rumah kontrakan. Meski terbilang ukurannya kecil jika disyukuri pun akan terasa cukup.

“Papah mau masak apa?” Tanya Euis bersandar di pintu penghubung ruang tamu dengan dapur.

“Ya dilihat dulu ada apa aja.” Sahut Bambang mencari sisa bahan masakan.

“Kalo ga salah tinggal tempe sama ikan asin aja, Pah.”

“Iya, Ma. Tinggal itu. Paling ndak buat siang ini cukup lah.”

“Tapi Mamah ga mau makan tempe sama ikan asin lagi ah!” Euis cemberut. Sedih.

“Lho, kenapa, Ma?” Bambang berdiri mencari talenan untuk mengiris tempe.

“Bosen! Tiap hari itu mulu!”

“Lho, kita emang baru sanggupnya beli ini to, Ma.”

“Itu mah Papah aja yang ga mau kerja keras.”

“Sudahlah, Ma. Terima aja keadaan kita kayak gini. Bersyukur.” Bambang mencoba menenangkan istri yang sifat manjanya mulai muncul lagi. Pisau mengiris-iris tempe menjadi sangat tipis, agar menjadi banyak.

“Halah, coba kalo …”

“Kalo apa? Mau ngungkit itu lagi?” Bambang menghentikan mengiris tempe. Menoleh ke arah istrinya.

“Huh …”

“Sudahlah! Mama mending nonton tivi aja sana lah!” Lanjut mengiris tempe.

“Tivi kecil gitu suruh ditonton.”

“Mamaa!” Pisau dibanting.

Euis melengos meninggalkan Bambang. Euis duduk di atas karpet. Menyalakan tivi. Menonton acara gosip favoritnya. Suaranya sengaja dikeraskan. Kaki diselonjorkan ke depan. Bersandar di dinding. Sesekali tangannya menopang dagunya. Untuk lebih memperhatikan setiap kata yang keluar dari selebritis yang sedang diberitakan. Dengan penuh khidmat memperhatikan setiap detik suguhan infotainment yang kebanyakan isinya perceraian kaum selebritis. Sesekali ngemil kripik pedas. Yang dibelinya di pasar seminggu yang lalu.

Bambang sesekali meneriakinya. Menanyakan bahan-bahan sambal yang ia tak tahu di mana disimpan. Dengan dingin Euis menjawabnya. Volume suara tivi tetap keras. Cukup sering mereka saling bersahutan satu sama lain. Tetap berteriak. Adzan berkumandang. Euis mengingatkan suaminya untuk sholat. Tapi Bambang menolak. Alasannya masih sibuk masak, menggoreng lauk. Nanti setelah makan siang baru dia sholat.

“Assalamu’alaikuuuummm …”

Agus pulang. Menimba ilmu sedari pagi. Seragam putih-merah terlihat lusuh. Berdebu. Terciprat saos kantin sekolah. Kaki dan tangan tak luput oleh sapuan debu lapangan sekolah.

“Wa’alaikumsalaaaam …” Bersamaan Bambang dan Euis menjawab. Satu menjawab dari ruang keluarga. Yang satu lagi menjawab dari dapur. Euis beranjak. Menyambut putra semata wayang. Buah cintanya bersama Bambang 10 tahun lalu.

“Eeeeeh, anak Mamah sudah pulang. Tapi kok kotor pisan ya bajunya.” Berlutut. Tangan memegang pundak Agus. Membelai rambut acak-acakan Agus. Agus tersenyum melihat sambutan ibunya. Meski lelah, tetap ia tersenyum.

“Iya, Mah. Tadi Agus main bola.” Melepas sepatu. Melepas kancing demi kancing seragam putihnya. Melepas ransel yang membebani tubuh kecilnya. Diberikan tas itu kepada ibunya.

“Mau jadi pemain bola to kamu, Gus?” Papa muncul dari balik pintu dapur. Membawa piring berisikan beberapa irisan tempe dan ikan asin hasil ia menggoreng.  Asap samar terlihat mengepul keluar dari lauk untuk mereka makan siang. Ia letakkan hasil karyanya di atas karpet di depan tivi. Ia juga membawa secangkir kopi hitam panas. Asapnya juga sama, tapi lebih terlihat, membumbung menjulang tinggi ke atas. Asap itu membawa aroma khas kopi hitam panas yang baru saja diseduh. Kemudian duduk lesehan di karpet ruang tamu. Dekat dengan tempat di mana Agus berdiri. Memperhatikan anaknya dengan penuh rasa bangga. Tak ada sofa. Bahkan tak ada kursi di ruang tamu. Hanya karpet yang di atasnya dihiasi dengan satu vas berisi bunga hias plastik dan sebuah asbak.

“Iya, Pah. Agus pengen jadi pemain bola.” Jawab Agus yakin. Kedua tangan direntangkan ke atas. Seperti layaknya seorang binaraga. Dengan maksud menunjukkan otot yang ada di lengannya.

“Iya boleh, tapi kamu ndak boleh ninggalin sekolah juga lho, Gus. Pendidikan itu penting. Kata orang bijak pendidikan itu jendela dunia.”  Bambang memberikan wejangan pada putranya. Sesekali meniupi kopi hitamnya agar cepat dingin. Untuk dapat segera diminum.

“Iya, Pah.” Kini tubuhnya hanya terbalut kaos singlet dan celana dalam. Aroma keringat lebih dapat tercium. Tapi masih kalah kuat dibading dengan aroma kopi. Sepatu beserta kaos kaki disimpan rapi di dekat pintu. Seragam dan tas dipegang Euis.

Sok kamu cuci tangan dan kaki dulu. Itu si Papah udah nyiapin makan siang.” Euis berdiri. Agus yang tingginya baru mencapai dada Euis menuju kamar mandi. Menunaikan amanah ibunya sambil bernyanyi.

“Garudaaaa di dadakuuu …” Setengah berlari menuju kamar mandi. Tangan menunjuk ke atas beserta kepalanya. Mengikuti selebrasi gol salah satu pemain pujaannya. Lionel Messi.

“Pinter ya anak kita, Ma.” Bambang tersenyum bangga. Tangannya melambai meminta istrinya duduk di sampingnya. Pandangan matanya teduh. Kopi diminumnya. Hangat-hangat manis terasa di tenggorokannya.

“Iya, ga kayak bapaknya.” Euis tersenyum. Cenderung sinis. Matanya melirik. Duduk di samping Bambang.

“Maksudmu apa, Ma?” Lepas sandarannya dari dinding.

“Halah, masih ga ngerti juga? Memang benar-benar beda ya bapak sama anak.” Nada mulai meninggi. Tapi dengan volume suara pelan. Mata melirik lagi. Sedikit melipat-lipat seragam Agus.

“Maksudmu apa, Ma?” Nada ikut meninggi. Pandangan mata tak lagi teduh. Cenderung melotot.

“Si Agus mah meski hobi maen bola tapi ga lupa sama pendidikan.”

“Apa sih, Maaaa!! Mulai lagi?”

“Ah, Mamah mah udah males debat sama Papah.”

Euis beranjak ke ruang keluarga. Melanjutkan menonton tivi. Seragam dan tas Agus ditinggalkannya begitu saja. Menemani Bambang yang geram. Tangannya mengepal kencang. Nafas terengah-engah. Pandangan mata tajam. Seakan menusuk apa saja yang dilihatnya. Kopi disruputnya lagi. Kali ini pahit ia rasakan. Tak seperti sruputan sebelumnya. Kopi itu juga tiba-tiba menjadi dingin. Bambang selalu marah jika ada yang mengungkit masa lalunya. Terutama perihal pendidikan. Impiannya berfoto memakai toga sirna. Terpaksa dropout dari perguruan tinggi tempatnya meniti cita-cita.

“Mamaaaaah. Papaaaaah. Ayo kita makan. Agus udah lapar banget nih.” Teriak Agus setelah keluar dari kamar mandi. Menuju dapur membawa setumpuk piring dan sendok. Dibawa ke ruang keluarga. Menyusul tempe dan ikan asin yang lebih dulu disajikan.

Raut muka Bambang dan Euis sontak berubah. Mendung yang menaungi pikiran mereka hilang. Suasana menjadi cair. Cerah secerah hari itu. Senyum mulai tersimpul dari bibir mereka.

“Iyaaa …” Bersamaan bersahutan menjawab. Euis mengecillkan volume tivinya. Raut wajahnya menunjukkan bahwa ia malas seketika ia memandang menu makan siang. Kemudian ia menonton tivi lagi. Sayang, acara gosip sudah usai. Hampir semua stasiun tivi pada jam-jam itu menyiarkan berita. Berita politik, berita pencitraan pemilik stasiun tivi, berita pesanan, dan berita-berita lainnya. Volume suara tivi lebih dikecilkan lagi. Bambang menuju dapur untuk mengambil sambal terasi, krupuk, dan nasi. Tak lupa sebelumnya mencuci tangan. Dibawanya sambal terasi dan nasi itu ke ruang keluarga.

“Agus mau makan yang banyak, Mah.” Pinta Agus memanja. Duduk bersila. Tangannya sesekali mencomot tempe goreng dan mengoleskannya pada sambal terasi.

“Iya, harus banyak makan, biar bisa jadi pemain bola.” Sahut Bambang.

Tersenyum melihat Agus yang antusias melihat menu makan siangnya. Meski hanya beberapa potong tempe, ikan asin, dan sambal terasi. Tak ketinggalan, salah satu elemen terpenting dalam makanan, krupuk, melengkapi menu makan siang mereka.

“Iya atuh, biar ga kayak si Papah. Kurus.” Mama tak ketinggalan merespon. Sembari menuangkan nasi ke piring. Mata Bambang mulai memicing. Melirik ke arah Euis. Dalam hatinya tak ingin memperlihatkan pertengkaran di depan anaknya. Itu akan berpengaruh pada pertumbuhannya. Tak sedetik pun Euis melirik Bambang. Pandangannya fokus pada nasi yang diambilkannya untuk anak dan suaminya.

“Nih, Gus, sambel terasi buatan Papa. Coba cium aromanya. Hmmmm, selera makanmu pasti nambah.” Papa mencoba menenangkan dirinya sendiri dengan mengalihkan perhatiannya sejenak pada Agus. Aroma sambal terasi menyeruak ke seluruh sudut rumah. Aroma yang pasti akan menggugah selera setiap insan yang menciumnya. Bahkan orang yang tadinya kenyang seketika akan merasa lapar lagi dan ingin segera menyantap sambal itu.

“Iya, Pah, dari tadi pas nyampe rumah, Agus sudah menciumnya. Agus jadi makin laper.”

“Nih, Pah, Gus, ayo kita makan. Berdoa dulu ya sebelum makan.” Kata Euis setelah memberikan piring berisi nasi kepada Bambang  dan Agus.

Keluarga kecil itu pun mulai makan. Bambang dan Agus memakan dengan tangan langsung. Sementara Euis makan memakai sendok. Sedikit demi sedikit ia menyuapkan sendok ke dalam mulutnya. Dengan lahap Bambang dan Agus menikmati anugerah Tuhan siang itu. Meski lauknya terbilang sangat sederhana (kata kebanyakan orang), mereka tetap menikmatinya. Sekecil apapun rezeki itu, jika diterima dan dinikmati dengan ikhlas akan terasa cukup. Banyak-banyak bersyukur. Semua dari-Nya dan akan kembali pada-Nya. Suap demi suap dihantamkan ke mulut mereka.

Bambang dan Agus menambah porsi nasinya. Sebenarnya mereka sudah cukup kenyang, namun lauk dan sambalnya masih tersisa. Sayang kalau tidak dihabiskan. Euis juga tambah, tapi cuma sedikit. Tempe dan ikan asin di piring sirna sudah. Begitu juga dengan kerupuk dalam plastik, hilang tanpa sisa. Sambal yang ada di cobek bersih. Perut keluarga kecil ini sudah penuh. Tampak sedikit buncit. Tapi yang paling buncit adalah Euis.

“Eeeeuuuuggghh …” Agus sendawa dengan kencangnya.

Euleuh eleuuuuuh, anak Mamah udah kenyang ternyata.” Euis langsung bereaksi terhadap sendawa Agus.

“Iya, Mah. Enak banget makan hari ini.” Sahut Agus.

“Alhamduuuu …” potong Bambang.

“Lillaaaahh …” Euis dan Agus menyahut berbarengan. Mereka tertawa bersama.

“Pah, Mah, abis ini Agus mau ke tempat Asep dulu ya. Mau belajar kelompok sekalian main PS. Hehe.”

“Iya, sok aja, Gus. Tapi sebelum pergi sapa dulu adikmu. Sini.” Kata Mama sambil mengelus-elus perutnya.

“Adik, cepet keluar yaa. Biar bisa main bola sama kakak. Kakak mau ke tempat Asep dulu ya. Dadaah.” Agus berkata sambil bergantian menempelkan bibirnya dan telinganya ke perut ibunya. Tak luput ia juga mengelus-elus perut Euis.

“Assalamu’alaikuuuum …”

“Wa’alaikumsalaaam …” jawaban salam yang berbarengan. Mengantar kepergian Agus.

Euis membereskan sisa-sisa piring. Piring-piring ditumpuk. Juga dengan cobek, gelas, sendok, dan periuk nasi. Sisa-sisa ceceran makanan dibersihkan.

“Alhamdulillah ya, Ma. Makan siangnya uenak pol.” Kata Bambang. Sesekali mengelus-elus perut buncitnya. Bersendawa. Memperhatikan tivi yang masih menyiarkan berita.

“Alhamdulillah dari mana, Pah? Makan gitu aja kok nyebut Alhamdulillah.” Memunguti beberapa butir nasi yang tercecer. Dikumpulkan dan diletakkan dalam piring bekas makan.

“Lho, Mama ini piye to. Daripada ndak makan.” Bambang beranjak dari duduk. Menuju kamar mengambil rokok.

“Sekali-kali makan daging-dagingan kek. Makan di restoran kek. Makan yang bergengsi gitu, Pah.” Masih membersihkan sisa ceceran nasi.

“Kalo Mama pinter ngatur duit, keadaan kita ndak akan kayak gini.” Bambang keluar. Sebungkus rokok Djarum Coklat dan korek api dibawa dari dalam kamar. Dikeluarkan satu batang.  Diletakkan itu di mulutnya. Korek memantikkan api. Ditempelkan ujung rokok. Rokok menyala. Dihisap dalam-dalam karena rokok kretek lebih susah menyala dibandingkan dengan rokok filter. Dikepulkan asapnya hingga membunmbung tinggi. Mengambil asbak di ruang tamu.

“Oooo, jadi Papah nyalahin Mamah sekarang?” Selesai membersihkan ceceran nasi. Bersandar duduk di dinding.

“Lho, emang Mama to yang ngatur semua gaji Papa. Lha wong semua gaji Papa kasihin semua ke Mama.” Asap pekat dikepulkan keluar lagi.

“Gaji segitu mah ga akan cukup, Pah!”

“Lho, itu kalo Mama pinter ngatur pengeluaran ya ndak kayak gini. Terima aja gaji Papa segitu. Syukuri saja. Alhamdulillah.” Asap tebal mengepul lagi. Menjentikkan jari ke rokok menghadap asbak. Abu terlepas dari batang rokok yang terbakar.

“Alhamdulillah naon deui, Pah? Ga liat apa kita miskin gini!”

“Lho, miskin sih miskin. Tapi kan ya mesti kita syukuri. Kelak pasti dapat rezeki yang lain yang lebih melimpah. Sabar makanya jadi orang.”

“Halah, dulu rezeki udah di depan mata. Eeeeh, ga jadi.”

Opo?”

“Warisan dari orangtuamu itu. Coba kalo Papah dapet warisan itu. Pasti sekarang kita ga semiskin ini, Pah.”

“Mama apa-apaan sih?”

“Coba kalo dulu Papah mau bujuk mereka biar warisan itu buat Papah semua. Pasti kita gak akan semelas ini, Pah, sekarang!”

Wis to, Ma! Mbok ya yang realistis pikiranmu itu lho!”

“Ah, ngebujuk orangtua aja ga berani. Huh.”

“Harta itu milik mereka! Ya terserah mereka dong, mau dihibahin ke siapa! Papa ndak punya hak!”

“Ah, justru itu teh hak Papah! Papah kan putra tunggal. Udah seharusnya jadi pewaris satu-satunya!”

“Sudah! Sudah! Mama jangan ungkit lagi perkara itu lah!”

“Ya udah! Sok, Papah sholat dulu sana! Berdoa sama Allah biar cepet kaya! Mamah mau nyuci piring!” Beranjak membawa piring beserta kawan-kawannya ke dapur. Berjalan cepat.

“Sebentar! Papa selesaiin pembicaraan ini dulu! Asal Mama tau, itu semua kan karena Papa nikah sama Mama!” Mematikan rokok yang baru habis setengahnya. Menyusul istrinya di belakang. Sembari masih berbicara.

“Terus kenapa Papah dulu mau, hah?” Meletakkan piring-piring di tempatnya akan dicuci. Memutar kran air. Air mengalir pelan. Membasahi tumpukan piring. Spons diambil. Dituangkan beberapa tetes Sunlight di atasnya. Diremas-remas sedikit. Busa membuncah sedikit demi sedikit memenuhi tangan Euis. Mulai mencuci piring.

“Itu karena bapakmu yang minta! Katanya kistamu sudah akut! Kata dokter harus cepet-cepet punya anak, biar sembuh!” Berdiri di samping sebelah kiri Euis. Di sebelah kiri Bambang terletak rak piring.

“Halah! Alasan!”

“Alasan ndasmu! Bapakmu dulu nelpon ke aku. Setelah vonis dokter itu, bapakmu nanya sama kamu. Siapa pria yang pengen kamu jadiin imam! Dan jawabanmu: Mas Bambang! Maka dari itu, sejak saat itu aku deketin kamu lagi! Padahal Mama masih pacaran sama si Kevin itu!”

“Ngarang!”

“Ngarang piye? Tanya aja sama batu nisan bapakmu itu!”

“Iya, waktu itu Mamah emang lagi pacaran sama Kevin. Ia masih miskin. Dan Papah kaya. Makanya Mamah maunya sama Papah. Dan asal Papah tau juga, si Kevin sekarang udah sukses, punya hotel di Bali. Tau gitu Mamah dulu …”

“Tuh! Coba Papa dulu dengerin nasihat orangtua Papa. Ndak akan kayak gini kan jadinya. Coba kalo seluruh warisan mereka dikasih ke aku, baru sebentar juga pasti abis. Makanya mereka hibahin warisan itu ke panti asuhan. Lebih besar manfaatnya.” Bambang menerima piring yang sudah dicuci. Memindahkannya ke rak piring yang ada di samping kirinya.

“Maksudnya?”

“Mereka ndak setuju kalo aku nikah sama bangsamu!”

“Emangnya kenapa bangsaku?”

“Ya kamu itu contohnya!”

“Ooo, jangan menghina bangsaku kau, Papah! Liat sendiri bangsamu, Pah!”

“Lho, emangnya kenapa bangsaku?”

“Hahahaha, bangsamu kan bangsa pembantu!”

“Itu konspirasi media, Mah!! Semuanya memberitakan seperti itu! Bangsamu juga banyak yang jadi pembantu dan TKI!!”

“Tapi tetep lebih banyak bangsamu, Pah! Dan satu lagi, pemerintah negara kita, kebanyakan mereka berasal dari bangsamu! Makanya negara ini ga maju-maju!”

Asu! Lagi-lagi konspirasi media!! Emangnya bangsamu ndak ada yang jadi pemerintah? Sekarang coba Mama pikir! Gubernur dan walikota kita berasal dari bangsamu! Pas kampanye dulu janji mau bikin lapangan kerja yang buanyak! UMK dinaikin! Mana buktinya? Sekarang kalo Mama nyalahin Papa karena gaji Papa kecil, kenapa ndak Mama salahin gubernur dan walikotamu itu?”

“Itu mah salah Papah atuh! Salah sendiri kuliah ga lulus! Ya begini jadinya kan!”

“Papa dulu ndak lulus kuliah karena harus ngawinin Mama!”

“Ga ada hubungannya kuliah sama kawin!”

“Setahun setelah nikah, mbrojol Agus! Terus mau dikasih makan apa anak kita?”

“Tapi ga harus ninggalin kuliah kan?”

“Gimana ndak ditinggalin? Lha wong aku kerja seharian full!”

“Capek-capek kerja full tapi gajinya ga cukup! Percuma!”

Ndak cukup karena Mama ndak bisa ngurusnya!”

“Mamah bisa ngurus kalo duitnya cukup! Duitnya aja dikit!”

“Yang namanya istri itu ya harus bisa ngurus duit! Berapa pun duitnya!”

“Yang namanya suami itu ya harus tanggungjawab! Harus bisa memenuhi kebutuhan keluarga!” Piring terakhir yang ia cuci terjatuh. Pecah.

“Kebutuhan? Itu namanya keinginan!”

“Kebutuhan setiap orang beda-beda, Pah!”

“Itu kebutuhan yang mengada-ada! Memangnya papa ndak tau selama ini duit kita abis buat apa!”

“Apa emangnya?”

Allahu akbar, Allahu akbaaaar

“Assalamu’alaikuuuum …”

“Eh, Wa’alaikum salaaaaam …”

Salam itu menghentikan perdebatan antara Bambang dengan Euis. Agus pulang. Langsung ke belakang. Tempat ayah dan ibunya mencuci piring. Penasaran apa yang baru saja terjadi. Suara perdebatan mereka terdengar samar dari luar rumah ketika Agus baru saja tiba di depan rumah.

“Papah sama Mamah tadi ngobrolin apa? Sampe luar kedengeran, lho.” Tanya Agus setibanya di tempat Bambang dan Euis mencuci piring.

“Oh, ini kita lagi mikirin nama apa yang cocok buat adikmu.” Sahut Bambang sambil membersihkan pecahan piring yang pecah terjatuh.

“Kok pake teriak-teriak segala?” Agus masih penasaran.

“Iya kan tadi Mamah sambil nyuci piring. Kalo ngomong biasa ga akan kedenger.” Euis menjawa. Membersihkan busa sabun cuci dari tangannya. Kran air dimatikan.

“Oh, gitu. Ini, Mah, Agus bawain air kelapa, tadi dikasih sama ibunya Asep.”

“Aduh, makasih ya, Gus. Oiya, nanti adikmu pengen kamu kasih nama apa?”

“Apa aja deh, yang penting cowok, biar kalo udah gede bisa main bola bareng.”

“Iya, doain ya biar keluarnya cowok.”

“Oh iya, Mah, Pah, tadi di jalan Agus ketemu sama Pak Yayat, katanya tunggakan kontrakan disuruh segera dilunasin.”

“Iya, Gus, nanti Papa lunasin ya.” menghela nafas panjang. Bambang mengusap-usap rambut putranya.

“Kamu ga ngaji ke masjid, Gus? Udah adzan tuh.” Sahut Euis.

“Iya, ini Agus mau ganti baju, Mah.” bergegas ke kamar.

Dengan volume suara yang rendah Bambang dan Euis berbicara.

“Gimana atuh, Pah? Pak Yayat udah nagih lagi aja uang kontrakan.”

“Tenang, Ma, biar Papa yang ngurus ntar.”

“Yaudah, Papa sholat dulu gih.”

“Iya.” Bambang berjalan ke kamar mandi mau mengambil air wudhu.

“Mamah bingung, Pah. Kita ga ada simpanan uang lagi, uang buat biaya persalinan si dede juga udah mulai kepake.”

“Udah, Mama tenang aja. Tuhan pasti ngasih jalan. Ndak mungkin Tuhan ngasih cobaan ke kita tapi kitanya ndak kuat ngadepinnya.” Bambang berbalik arah. Menuju Euis. Merangkulnya.

“Papah, Mamah, Agus pergi ke mesjid dulu yaaa. Assalamu’alaikuuum …”

“Wa’alaikumsalaaam, hati-hati, Gus.” Sahut keduanya.

“Mamah bingung ih, Pah. Ini gimana uang kontrakan rumah kita?”

“Sudahlah, Ma. Papa juga bingung ini. Jangan nambah Papa bingung deh. Papa juga lagi mikirin jalan keluarnya gimana.” Nada meninggi.

“Ya udah deh kalo gitu, asal uang buat arisan dan nyalon Mamah ga dipotong aja.“

“Udah tau keuangan kita tipis gini. Masih mikirin uang arisan dan nyalon!”

“Itu kan emang buat keperluan Mamah. Papah mah ga bisa ngertiin mamah pisan ih!”

“Mama yang ndak bisa ngerti! Sadar dong, Ma, sadar!”

“Mamah mah udah sadar dari dulu kali. Mamah udah bosen hidup sederhana terus. Mamah pengen hidup enak kayak dulu lagi tau.”

Please, Ma! Mbok ya yang realistis gitu lho jadi orang tuh!”

“Huh, tau kayak gini Mamah nyesel kawin sama Papah.”

“Astagfirullah! Eling, Ma! Ati-ati kalo ngomong! Jaga itu mulut!”

“Jadi kepikiran pengen cerai Mamah mah.”

“Huss! Maksudmu apa, Ma?”

“Ya abis Papah ga bisa menuhin kebutuhan Mamah. Daripada gini terus kan mending kita cerai.”

“Jaga omonganmu, Ma! Istighfar!”

“Huh, sudah Papah sholat dulu aja sana! Dari tadi ga jadi-jadi mau sholat teh!”

“Sebentar! Urusan kita belum selesai, Ma!”

“Tuh kan, urusan sama Tuhan malah dikesampingin.”

“Bukan itu masalahnya. Gimana Papa bisa tenang. Pikiran Papa kacau gini. Yang ada malah ndak akan khusyu’ sholatnya nanti! Walau nanti pas sholat Papa mati, yang katanya mati syahid, tetep aja Papa ndak tenang!”

“Udah ga usah dipikirin lagi. Keputusan Mamah udah bulat! Mamah udah mikirin ini dari dulu.”

“Udah! Udah! Udah! Papa sholat aja kalo gitu! Papa mau curhat sama Allah! Siapa tau dikasih solusinya!”

“Boro-boro dikasih solusi! Didenger juga kagak!”

“Allah pasti mendengar dan menjawab curhatanku! Dia pasti ngasih aku solusi! Hanya terkadang aku ndak ngerti seperti apa solusi dariNya!” Langsung menuju kamar mandi mengambil wudhu. Pintu kamar mandi dibanting dengan keras.

“Tuh main pergi gitu aja. Suami macam apa itu. Makin membulatkan tekadku untuk cerai dari kamu, Pah.”

“Terserah!” Suara dari dalam kamar mandi. Kemudian terdengar gemericik air mengalir. Bambang berwudhu.

Euis membersihkan dapur bekas memasak. Pelan-pelan ia bergerak. Takut terjadi apa-apa pada jabang bayi yang dikandungnya. Selesai berwudhu, Bambang bergegas ke kamar. Sholat Ashar. Euis juga selesai membersihkan dapur. Menuangkan plastik air kelapa muda ke dalam gelas. Beranjak ke ruang keluarga. Menyalakan tivi. Menonton acara infotainment lagi. Mengemil lagi keripik pedas yang kini ditemani air kelapa muda.

Keluar dari kamar setelah selesai menunaikan sholat Ashar, Bambang turut duduk menemani istrinya menonton acara televisi. Berdua bersandar di dinding. Menghadap layar kaca. Memperhatikan dengan seksama acara televisi. Tak ada percakapan antara mereka. Di antara jeda iklan, TV tersebut menayangkan breaking news.

“Itu, Pah, lagi banyak geng motor ngerampok minimarket. Papah ati-ati ya kalo lagi jaga minimarket. Mamah mah takut ih.”

“Hmm, minimarket yang dirampok itu kan Papa tadi yang jaga.”

“Tapi bukan Papah yang jaganya tadi?”

“Itu Papa lagi di gudang nyatetin barang. Si Beni yang lagi jaga kasir. Kena rampok beberapa juta sama beberapa barang.”

“Trus gimana, Pah?”

“Ya ga gimana-gimana. Papa sama Beni dipecat.”

Euleuh, makin miskin aja kita, Pah. Cari kerja lagi gih!”

“Iya …”

“Kapan?”

“Udah lah, Ma! Papa capek!”

“Huh!”

Kembali ke acara infotainment. Di mana sedang memberitakan pernikahan seorang selebritis untuk yang kedua kalinya, kali ini dengan seorang pengusaha sukses dari negara tetangga. Suaminya yang baru ini jauh berbeda penampilannya dengan suami yang pertama. Suami yang pertama lebih sangar dengan rambut panjangnya, tapi gaya hidupnya biasa-biasa saja cenderung sederhana. Sedangkan suaminya yang kedua juga masih manusia cenderung lebih menyerupai gorila, tapi kaya raya.

“Tuh, Pah, dia nikah juga akhirnya. Yang kedua malah nikah sama pengusaha kaya raya. Gosip yang dulu terdengar santer emang bener. Dia selingkuh dengan pria kaya raya ini.”

“Maksudmu?”

“Ya siapa tau nanti abis cerai, Mamah bisa nemu yang lebih kaya dari Papah.”

“Udah lah. Papa ndak mau bahas rencana gilamu itu lagi.”

“Ya udah, gitu aja kok repot.”

“Ma, Papa kasih tau ya. Cerai itu ndak haram, tapi sangat dibenci sama Allah.”

“Ya daripada kita kayak gini terus-terusan. Kan malah makin numpuk dosa kita. Ya mending cerai.”

“Kamu ndak mikirin nanti si Agus bakal gimana?”

“Ya kalo Papah mau hak asuh, ya udah ntar Agus hak asuhnya penuh buat Papah.”

“Bukan itu maksudku, Ma. Tolong pikirin perasaan dan mental si Agus. Ndak baik buat pertumbuhannya. Belum itu nanti si jabang bayi di perutmu itu.”

“Assalamu’alaikuuum …”

“Wa’alaikum salaaaam …”

Agus pulang dari ia mengaji di masjid. Bambang dan Euis menyambutnya dengan penuh kehangatan.

“Aduuuuh, anak Papa udah pulang. Gimana tadi ngajinya? Udah jilid berapa kamu, Nak?”

“Jilid lima, Pah. Udah mulai susah bacaannya.”

“Ya pelan-pelan nanti kamu juga bisa lancar bacanya, Gus.” Sahut Euis.

“Agus mau mandi dulu, hari ini panas banget. Dari tadi siang keringetan mulu.”

Sok, sana gih mandi yang bersih ya sayang.” Sambut Euis.

Hari mulai menggelap. Karena Matahari harus adil membagikan energinya dengan belahan Bumi yang lain dan juga gelap karena awan gelap mulai menyelimuti langit di daerah itu. Awan berisi air yang dibawa dari laut mulai menumpahkannya sedikit demi sedikit. Hingga air itu menyentuh tanah dan menimbulkan aroma khas. Angin juga mulai merasuki setiap sudut kota. Dingin semakin terasa dengan turunnya hujan yang rintik-rintik.

Bambang beranjak dari duduk. Menuju ruang depan. Menutup pintu dan gorden. Rumah kontrakan mereka kini menghalangi hawa dingin yang mungkin juga kedinginan dan ingin kehangatan dengan turut masuk ke dalam rumah. Tak lupa Bambang menyalakan beberapa lampu untuk menerangi rumah mereka. Agus selesai mandi. Bergabung bersama ibunya menonton TV.

Handphone berdering. Bambang yang masih berdiri kemudian mencari handphone yang deringnya berasal dari dalam kamar tidur. Dari nama penelepon yang muncul, itu adalah teman lamanya semasa kuliah dulu. Bambang mengangkat telepon di dalam kamar. Agar tak mengganggu kegiatan menonton TV istri dan putranya.

“Aduh, lihat acara masak-memasak, Mamah jadi lapar, Gus.”

“Iya, Mah, kayaknya enak itu makanannya. Apalagi gerimis dan dingin gini.”

“Paaah, beliin makan dong. Mamah sama Agus laper.” Masih duduk, Euis mengintip suaminya yang masih berada di dalam kamar. Masih bercengkerama melalui handphone. Dari dalam kamar, Bambang mengisyaratkan bahwa pembicaraannya sangat penting. Tak bisa diganggu.

“Papah lagi sibuk tuh, Gus. Kamu aja atuh yang beli ya. Uangnya ambil aja di dompet Mamah di kamar.”

“Iya, Mah. Agus pergi dulu ya, Mah.”

“Hati-hati ya, Gus. Pakai payung.”

Agus membuka pintu depan. Menutupnya kembali. Udara dingin dengan begitu cepat menyelinap di sela-sela Agus membuka-tutup pintu. Dingin segera menyeruak ke seisi rumah, meski cuma sebentar. Percakapan telepon antara Bambang dan temannya selesai.

“Siapa yang nelpon, Pah?”

“Itu si Dadang, teman kuliah Papa dulu, katanya ada proyekan gede. Prospeknya bagus. Dia ngajakin Papa.”

“Wah, bagus itu, Pah. Terus diambil?”

Ndak lah. Papa mikirnya Mama dalam waktu dekat udah waktunya ngelahirin. Jadi Papa tolak tadi.”

“Papah gimana sih! Orang ada rezeki gitu ditolak! Lumayan kan uangnya!”

“Proyek itu di luar kota, Ma. Papa harus berbulan-bulan mantau keadaan di sana.”

“Ada orang yang nawarin kerjaan bagus malah ditolak! Blegug!”

Bleguk piye to? Nanti kalo bayi kita mbrojol siapa yang ngurusin kamu?”

“Bilang aja sih males ga mau kerja keras. Lumayan uangnya buat …”

“Buat apa? Dari dulu pikiranmu cuma uang, uang, dan uang! Ndak bisa ya keglamoranmu itu kamu turunin dikit?”

“Ga bisa! Mamah dari dulu emang kayak gini! Kalo Papah ga bisa menuhin keinginan Mamah mah ya udah kita cerai aja. Selesai kan urusan kita.”

“Tuh! Bukannya mikirin solusi lain selain cerai! Dari awal nikah juga ndak pernah bantuin gerakin roda rumah tangga! Yang ada malah berat-beratin aja!”

“Kenapa ga dari dulu Papah bilang gitu, hah? Kenapa baru sekarang?”

“Karena aku kasian sama kamu, Ma!”

“Oh, jadi nikahin Mamah teh cuma karena kasian?”

“Bukan cuma itu! Aku kira sifatmu itu bisa berubah, tapi hasilnya nol besar! Mama ndak bisa berubah! Ndak mau berubah! Malah makin gila gaya hidupmu yang sok eksklusif itu!”

”Oh gitu? Sekarang tekad Mamah udah benar-benar bulat! Mamah minta cerai! CE-RAI!! Titik!”

“Oke kalo itu maumu. Segera setelah anak kedua kita lahir, kita cerai! Biar puas kamu! Lihat saja nanti! Mama pasti bakal nyesel seumur hidup karena ceraiin Papa! Mungkin Papa emang bukan suami yang baik, tapi mencari manusia lain yang lebih baik dari Papa, MUSTAHIL!! Camkan dan catat benar-benar kata-kata Papa tadi! MUSTAHIL!!” Bambang sedari tadi masih berdiri. Berteriak-teriak memaki istrinya. Sudah muak dengan segala kelakuan istrinya. Istrinya mulai menitikkan air mata. Nafasnya sesenggukan.

“Assalamu’alaikuuumm …”

“Aaaaaaaarrgghh!”

“Maaah, Mamah kenapa?” Agus datang membawa nasi bungkus untuk keluarganya. Mendengar teriakan ibunya, ia langsung menghampirinya.

“Aaaaarrgghh! Perut Mamah sakit banget, Pah, Gus!” Euis yang tadinya duduk kini berbaring mengerang kesakitan memegangi perutnya.

“Air ketuban Mama pecah, Gus. Cepat panggil Bu Sinta, Gus. Bilangin Mama udah mau ngelahirin gitu!” Bambang yang dari tadi berdiri langsung duduk. Mendekap erat Euis di atas pangkuannya. Daster yang Euis kenakan mulai basah bagian bawahnya. Juga sampai-sampai membasahi karpet.

“Iya, Pah!” Secepat kilat Agus beranjak berlari keluar. Lupa memakai payung. Menghiraukan gerimis yang kini telah menjadi hujan deras.

Bambang membopong dan membaringkan istrinya di kamar. Euis terbaring lunglai di kasur. Tapi masih kuat mengerang-erang dengan keras. Bambang mengusapi rambut Euis. Menyeka keringat yang mengalir di keningnya. Tangan mereka saling berpegangan. Penuh kehangatan Bambang mendekap erat Euis.

“Maa, tahan ya, Maaa. Bentar lagi bu bidan datang.”

“Paaah, Mamah ga kuaaaat! Sakiiiiitt!”

“Iya, Ma, sabar ya.”

“Aaaaaaarrrgghh!”

Allahu akbar, Allahu akbaaaar

Advertisements

4 thoughts on “Salah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s