Pecel Mbah Rebo

Pecel Mbah Rebo

“Maaas, nanti sarapannya nasi pecel Mbah Rebo, ya.”

Berkata ibu dari dapur. Tyo berjalan melintas di depan dapur, usai mandi. Tyo berhenti sejenak. Melanjutkan perjalanan menuju kamarnya, ganti baju.

Senin pagi itu, Tyo bangun jam 05.30. Menurutnya ia kesiangan. Biasanya jam 04.00. Semalam tak bisa tidur, lagi-lagi terganggu bunyi gendhing dari ruang dimana karawitan disimpan. Entah siapa yang memainkan malam-malam begitu. “Ora sopan!” Umpatnya dalam hati. Menutup telinga. Tertidur juga. Segera setelah bangun, langsung ia berwudhu. Sholat subuh, meski sudah sangat telat. “Yang penting niatnya,” berkata ia dalam hati. Di desanya, adzan subuh berkumandang sekitar jam 04.00. Usai sholat subuh, merapikan kamar, melipat selimut, menyiapkan buku sekolah, dan sebagainya. Tak selang berapa lama, ia mandi. Sebelumnya minum segelas air putih.

Seragam merah putih, baju masuk, dasi merah menggantung lurus di kerah baju, tulisan ‘R. Satya Reksabumi’ menempel di baju bagian dada kanan, rambut dibelah pinggir, klimis minyak urang-aring, tangan dan kaki dipoles lotion Mustika Ratu, tas ransel ditenteng. Begitulah ia keluar dari kamarnya. Menenteng tas menuju meja makan. Diletakkan tas di samping kursi. Minum segelas susu putih. Sedikit-sedikit menyeruput kopi hitam bapaknya. “Hmm, enak tenaaan”. Ucapnya dalam hati.

“Mas, ini uangnya. Beli empat ya. Buat bapak, Mas Galih, kamu, dan Mbok Nem. Ibu ndak usah, lagi puasa. Yang satu ndak pedes buat Mas Galih.”

Tyo diam terpaku. Melihat uang sepuluh ribu terlentang di atas telapak tangannya. Melihat ibu, melihat uang lagi.

“Aku yang beli, Bu?” Melihat ibunya lagi.

“Mbok Nem lagi sakit, sayaaang.”

Mbok Nem adalah kalau istilah keraton Ngayogyakarta Hadiningrat disebut abdi dalem. Sudah lama mengabdi di keluarga ini. Bahkan wanita tua itulah yang mengasuh ibu sejak kecil. Hingga sekarang Tyo pun tak luput dari perhatiannya. Suami Mbok Nem menetap di Jakarta. Berjualan sembako di toko kelontong. Juga menemani putranya kuliah di sana. Hanya ketika libur lebaran mereka pulang kampung. Berkumpul bersama Mbok Nem yang juga libur lebaran di rumah mereka, daerah Ngebel, Ponorogo. Hanya beberapa hari mereka bersua melepas kerinduan. Mereka melanjutkan aktivitas lagi. Mbok Nem dinas di rumah Tyo, di Madiun. Suami dan putranya kembali ke Jakarta. Bersama-sama bekerja demi menyambung nafas kehidupan.

“Mas Galih?”

“Mas Galih PR-nya belum selesai. Dia lagi mengerjakannya sekarang.”

“Baiklah.”

“Oh iya, di meja ada kresek dan karet. Kamu kasih ke Mbah Rebo ya. Ati-ati ya nyebrangnya, Nak.”

“Hmm.”

Dengan langkah pelan Tyo pergi. Dalam kepergiannya mendengar suara batuk Mbok Nem. Orang yang mengasuhnya sejak kecil. Kini melemah kondisinya. “Cepat sembuh, Mbok.” Berdoa ia dalam hati. Bukan karena tak mau disuruh-suruh lagi, tapi karena rindu nyanyian Wuyung ketika Mbok Nem menyapu halaman. Suara yang timbul dari perpaduan gesekan sapu lidi, tanah, daun kering, dan vokal Mbok Nem menenangkan dan mendamaikan suasana.

Laraning laraaa, ora kaya wong kang nandang wuyuuuung …

Melewati kamar Mas Galih, pintu terbuka. Kakaknya yang masih duduk di kelas 2 SMP itu sedang mengerjakan PR. Senyum-senyum ia menyapa, “Jangan lupa buat aku ndak pedes yo, dik.” Tyo tak menghiraukan perkataan manusia yang lahir mendahuluinya tiga tahun itu. Dalam hati ia menggerutu, “Awas kowe, Mas!”

Jarak rumah Tyo dengan warung Mbah Rebo tidaklah jauh, sekitar 200 meter. Cukup jalan kaki. Di tengah perjalanan, melihat tukang sayur di gardu Poskamling. Dikelilingi ibu-ibu. Penuh kesabaran melayani ibu-ibu menawar dagangannya. Begitu juga ibu-ibu itu, penuh tekad dan kesabaran ketika menawar harga. Tersenyum Tyo melihatnya. Ingin mendapat barang bagus tapi dengan harga yang sangat murah. Bukannya mereka orang Jawa? Lupakah mereka pada pepatah Jawa yang sangat legendaris? Yang melengkapi logo kebanggaan Provinsi Jawa Timur, “Jer Basuki Mawa Beya”. Mungkin pikir mereka ‘beya’ disini tidak harus melulu uang. Usaha menawar harga juga termasuk ‘beya’. ‘Basuki’-nya adalah barang berupa sayur-sayuran atau pun bumbu-bumbu. Untuk nanti dimasak sebagai bentuk pengabdian pada suami dan tanggungjawabnya terhadap anak-anak mereka. Begitu juga berlaku untuk tukang sayur. Kesabarannya adalah ‘beya’ yang berharap akan menghasilkan ‘basuki’ baginya, mungkin juga ‘basuki’ untuk keluarganya. Harga disepakati. Uang berpindah tangan. Dikibaskan uang itu oleh tukang sayur ke barang dagangannya. Ia kibaskan uang itu. Mulutnya komat-kamit.

“Laris-laris. Payu laris payu …”

Hari yang masih pagi, jalan raya mulai terlihat padat merakyat. Siapapun boleh melewatinya tanpa kecuali. Siapapun boleh saling menyalip, asal sesuai aturan lalu lintas yang berlaku. Tyo melihat bapak-bapak bertopi caping mengayuh sepeda kumbang. Memulai hari dengan membajak sawah. Asap mengepul keluar dari mulutnya. Menghisap sebatang rokok kretek lintingan sendiri. Tembakaunya diperoleh dari pasar. Biasanya hari Rabu Wage lebih lengkap jenis tembakaunya. Kulitnya hitam berkat taning alami terik matahari di sawah. Otot kencang setiap hari ditempa bak atlet olahraga dengan membajak sawah. Pelan bapak itu mengayuh sepeda. Disalip oleh anak muda berseragam SMA. Motornya tampak masih baru. Tak ada plat nomor tertempel di bagian depan maupun belakang motor. Tanpa helm. Laju motor sangat kencang. Menantang maut mungkin. Maut tak usah ditantang, ia akan datang dengan sendirinya. Oh, betapa merakyatnya jalan itu. Siapapun boleh lewat di atasnya. Tak peduli siapa yang sedang melintasinya. Tanpa memandang SARA.

Cukup sepi dari lalu lalang pengguna jalan, Tyo menyeberang. Warung pecel Mbah Rebo terletak di pojokan perempatan jalan. Di ujung jalan, Mbah Rebo menenteng bakul berisi nasi. Tulang punggung sedikit membungkuk membuat kecepatan berjalannya lambat. Sedikit pun tak terlihat wajahnya mengekspresikan kelelahan. Semangat mengobar yang justru ia perlihatkan. Warung Mbah Rebo berukuran sekitar 2,5 x 4 meter, terbungkus seng di bagian atas dan sampingnya. Pintu juga terbungkus seng yang pada bagian tertentu menampakkan karatnya. Entah siapa yang melakukannya, di tengah-tengah pintu dihiasi coretan Pilox merah bergambar kepala banteng. Tertulis nomor tiga di atasnya. Dan di bawahnya tertulis, “Pro Reformasi!!” Warung masih kosong, belum ada pelanggan satupun. Itu berarti Tyo adalah penglaris pertama hari itu bagi Mbah Rebo. Tyo duduk di tengah kursi panjang, terbuat dari kayu, sedikit goyang, termakan rayap dan usia. Di depannya terpajang lautan lauk pauk beraneka ragam. Tempe goreng berjubel dalam baskom. Juga rimbel menggunung dalam baskom yang berbeda. Di atas piring tertumpuk telur dadar menjulang tinggi layaknya Menara Pisa, tapi telor dadar ini lurus ke atas, rapi. Peyek kedelai bertumpuk dan berjajar rapi dalam toples. Di sampingnya toples peyek teri. Tak lama, Mbah Rebo datang. Nasi diletakkan. Diaduk sebentar. Asap mengepul. Tercium wangi nasi yang dibawa asap membahana ke udara. Wangi hasil memasak memakai kayu bakar lebih menggoda daripada memasak memakai peralatan modern seperti rice cooker.

“Lho, Mas Tyo? Tumben bukan Mbok Nem yang kesini?”

“Mbok Nem lagi sakit, Mbah.”

“Sebentar ya, Le, Simbah ngambil pecel dulu di rumah. ”

“Iya, Mbah.”

Mbah Rebo meninggalkan warung. Berjalan ke rumahnya. Letaknya tak jauh dari warung. Beberapa orang mulai berseliweran meramaikan jalan. Semakin ramai dari sebelumnya. Anak-anak, remaja, orang tua, hingga kakek-nenek tumplek blek semua bergantian melintas jalan. Ada yang ke sekolah, ke pasar, ke sawah, ke kantor, bahkan yang sekedar jalan-jalan, tak ada tujuan. Suara-suara kendaraan bermotor, bel sepeda, dan bunyi gemerincing bel delman semakin menyemarakkan suasana pagi di suatu pedesaan di Jawa Timur itu.

Nafas terengah-engah terdengar. Mbah Rebo kembali. Membawa pecel yang dijanjikan. Pecel ditata sedemikian rupa di atas nampan. Di tengah-tengah nampan ada semangkuk bumbu kacang kering, belum dilebur air panas. Kali ini komposisi pecel Mbah Rebo berupa kecambah, daun ketela rambat, daun papaya, yang sebelumnya semuanya direbus air panas. Ada juga mentimun diiris kotak-kotak kecil-kecil. Semua komposisi melingkar rapi mengelilingi mangkuk bumbu kacang. Diletakkan nampan itu di atas meja. Hati-hati Mbah Rebo menuangkan air panas ke dalam mangkuk bumbu kacang. Mengaduk hingga tercampur antara bumbu kacang dan air panas. Dengan campuran komposisi bumbu kacang yang merata, takaran air panas yang pas, jumlah adukan yang tepat, menciptakan rasa bumbu kacang nasi pecel yang melegenda. Resep nasi pecel ia dapatkan dari ibunya. Ini adalah resep turun-temurun. Ibunya dulu juga berjualan nasi pecel. Tapi tak punya warung. Berkeliling dari rumah ke rumah menjajakan nasi pecel. Generasi ke dua nasi pecel legendaris itu, Mbah Rebo, membuka warung dan melanjutkan perjuangan menghidupi diri dengan nasi pecel, mengayomi masyarakat dengan nasi pecel, dan melestarikan warisan kuliner dengan nasi pecel. Pecel terdiri dari berbagai macam sayuran yang berbeda. Direbus dengan waktu tertentu, hingga layu. Bumbu kacang ditumbuk sedemikian rupa halusnya. Lauk pauk bebas memilih sesuai selera lidah penikmatnya. Oh, sungguh beragam unsur penyusun nasi pecel itu. Tapi justru keberagaman itu yang membuatnya nikmat ketika disantap. Menghela nafas panjang, Mbah Rebo mengusap keringat yang mengalir di pelipisnya.

“Ini Mbah, titipan dari ibu.” Tyo menyerahkan kumpulan kresek dan karet amanat ibunya.

“Apa ini, Le?” Mbah Rebo penasaran.

“Oalaah, terima kasih ya, Le. Kok ya sempet-sempetnya nyimpen kresek dan karet. Nanti Mbah kasih pecel ya satu.” Wajah Mbah Rebo sumringah.

“Berapa bungkus, Le?”

“Empat, Mbah. Yang satu ndak pedes buat Mas Galih.”

Di sana, istilah nasi pecel tak pedas adalah nasi thok pake lauk, lauknya mau apa saja boleh. Tergantung yang ada. Favorit keluarga Tyo adalah tempe, peyek teri, peyek kedelai. Bukannya tak mampu beli lauk daging-dagingan. Lidah mereka merasa tak cocok nasi pecel lauknya daging-dagingan maupun telor, kurang pas. Lebih cocok dan nikmat dengan tempe atau peyek katanya.

“Eeeh, ada Mas Tyo to? Tumben bukan Mbok Nem yang kesini?”

Seorang ibu-ibu paruh baya menyapa. Masuk ke warung. Duduk di sampingnya. Pertanyaan ibu itu dijawab Tyo dengan jawaban yang sama pada Mbah Rebo sebelumnya. Sedikit bosan ia berada di sana. Pertama, ia tidak terbiasa pergi kesana sendirian. Karena memang segala urusan konsumsi luar rumah dikelola oleh Mbok Nem, selama masih bisa dijangkau dengan kaki tuanya. Kedua, durasi pelayanan Mbah Rebo relatif lamban. Entah memang itu metode penglarisnya. Alasan yang paling logis karena usianya yang telah menginjak angka enampuluh lebih. Membuat gerakannya melambat. Mbah Rebo hidup sendiri. Suaminya tewas di medan perang merebut kemerdekaan Indonesia melawan penjajah. Tidak sempat dikaruniai anak. Mbah Rebo tak mau menikah lagi. Padahal ia masih muda dan cantik ketika suaminya meninggal. Hanya suaminya seorang yang ia cintai. Cinta sejatinya hanya suaminya. Ia tak mau menodai cinta mereka dengan menikah lagi dengan pria lain. Rela hidup sebatang kara di dunia. Karena yakin di kehidupan selanjutnya yang abadi, ia pasti dipersatukan kembali dengan suaminya. Meski di sana harus berbagi dengan bidadari.

“Mbah, Mas Tyo pesen berapa bungkus?“ Tanya ibu di samping Tyo.

“Empat, Nduk.” Jawab Mbah Rebo sambil membungkus bungkusan nasi yang pertama.

“Aku duluan ya, Mbah. Aku cuma dua bungkus. Buat anak-anak mau sekolah.” Pinta si ibu.

“Ndak papa ya Mas Tyo, aku minta dibungkusin dulu.” Bertanya si ibu itu ke Tyo. Tak sepatah kata pun keluar dari mulut Tyo.

“Ya ndak bisa dong, kamu ‘kan datang belakangan.” Sahut Mbah Rebo cepat.

“Tapi ini mendesak, Mbah. Ndak papa ya Mas Tyo. Dua bungkus saja.” Masih mencoba merayu.

Tyo hanya diam. Tak menghiraukan apa yang terjadi. Wajah Mbah Rebo kebingungan. Gerakannya semakin melambat. Keluarga Tyo adalah pelanggan setia Mbah Rebo, terutama hari Minggu. Selain itu, mereka adalah keluarga ningrat dan terpandang. Sangat dihormati di daerahnya. Mbah Rebo mencoba mempercepat gerakan pelayanannya. Secepat-cepatnya nenek tua bergerak, tak berpengaruh banyak.

“Jadi gimana, Mbah?” Si ibu belum mau menyerah.

“Ini Mas Tyo mau sekolah juga. Lihat, ganteng gitu pake seragam.” Kata Mbah Rebo.

“Biar duluan aja, Mbah. Ndak papa.” Tyo berkata sambil memangku satu tangannya di atas meja. Mbah Rebo menghela nafas panjang.

“Maaf ya Mas Tyo, aku sela duluan.” Ibu itu mengelus-elus rambut Tyo yang masih klimis.

Selesai sudah dua bungkus pesanan ibu itu. Membayar dengan uang sepuluh ribu. Harga satu bungkus seribu limaratus.

“Wah, nggak ada yang lebih kecil, Nduk? Mbah belum ada kembalian.” Mbah Rebo mencari-cari uang dalam laci di bawah meja. Juga mencari di saku-saku bajunya. Tak sepeser uang pun tersimpan di sana. Itu adalah uang pertama yang Mbah Rebo terima atas jerih payahnya berjualan. Si ibu juga mencari-cari bilamana ada uang lain yang ia bawa. Ia mencari di dalam dompetnya. Yang ia temukan justru uang dengan nominal lebih besar dari yang ia bayarkan ke Mbah Rebo.

“Sudah, Mbah. Dari aku saja.” Seketika Tyo berkata. Atas nama waktu yang semakin menjauh, kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Tyo. Tidak ada penunjuk waktu di warung itu. Demi efisiensi waktu, Tyo melakukan itu. Mbah Rebo dan si ibu sejenak memandang Tyo, yang kini menopang kepala dengan kedua tangannya.

“Baik sekali Mas Tyo ini. Terima kasih ya Mas.” Ibu itu berlalu. Berjalan cepat menghilang lenyap. Menyeberang jalan. Kini hanya terlihat lalu lalang motor yang meramaikan jalan.

Waktu berlalu. Selesai sudah empat bungkus nasi pecel. Begitu juga satu bungkus pecel tanpa nasi sebagai tanda terima kasih atas pemberian kresek dan karet dari Tyo. Diberikan uang sepuluhribu rupiah kepada Mbah Rebo.

“Wah, Mbah ndak ada kembalian, Le. Kembaliannya seribu diganti sama tempa saja ya.”

“Iya, Mbah.” Tyo menggaruk-garuk kepalanya, padahal tidak terasa gatal.

Empat buah Tempe dibungkus dengan kertas. Dimasukkan ke dalam kresek bersama dengan bungkusan nasi pecel. Diberikan kresek itu kepada Tyo. Bersamaan dengan itu Tyo berpamitan pulang.

“Terima kasih, Mbah.” Tyo berdiri. Mulai beranjak pergi.

“Iya, Le. Sama-sama.” Jawab Mbah Rebo.

Mbah Rebo menghela nafas panjang. Melakukan ritual penglarisnya. Uang sepuluhribu dikibas-kibaskan pada dagangannya. Sayuran di atas nampan, tempe, rimbel, toples peyek tak satupun luput dari kibasannya. Berharap dagangannya hari itu laris manis. Ia kibaskan uang itu. Mulutnya komat-kamit.

“Laris-laris. Payu laris payu …”

Advertisements

4 thoughts on “Pecel Mbah Rebo

  1. reza says:

    setuju sama Pak Eki… 😀
    ini kritik membangun, Mas!

    terus, saya memfavoritkan bagian ‘cinta sejati-pertemuan kembali di dunia lain-pengkhianatan bila kawin lagi’. yang itulah pokoknya 😀
    keep writing!

    @Pak Eki: love your blog…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s