Hati-hati, Hati Abu-abu

Hati-hati, Hati Abu-abu

Pintu kamar terbuka, poster Slank menempel di sana. Slank formasi 13. Udara pagi dipersilakan saling bertegur sapa dan berganti shift untuk menyegarkan isi kamar. Jarum-jarum berputar mengitari angka-angka. Terkurung dalam lingkaran kaca yang menempel di dinding. Dua jarum bercengkerama dengan angka sembilan. Membentuk sudut 100o. Sebuah handphone membisiki telinga penghuni kamar, raga direbahkan, menikmati bisikan demi bisikan.

“Siapa itu?”

Terkejut akan sosok yang tiba-tiba muncul berdiri di ambang pintu. Beranjak dari rebahannya, duduk bersila, bersandar tembok putih.

“Eh, mmm, biasa, ibu.” Jawabnya sambil memasukkan handphone ke saku celana.

Marcella terlihat sedikit lelah. Mencoba mengatur tempo nafas yang tak teratur. Maklum, jalan menuju kosan Tyo sedikit menanjak. Untuk mencapainya butuh sedikit tenaga ekstra. Pelan-pelan Marcella memasuki kamar. Nafasnya terdengar mulai sedikit konstan. Duduk di samping Tyo. Bersandar di pundaknya. Berdua memandangi dua ekor kura-kura bermain-main dalam air di akuarium, saling berenang kejar-kejaran.

“Kok udah pulang? Bukannya masih ada kelas sekarang?” Tyo memecah keheningan.

“Ga ada dosen.” Jawab Marcella sambil menguap.

Wajah Marcella murung, lelah jelas. Cenderung sedih dan mengantuk. Memegang erat tangan Tyo, mengelus-elusnya.

“Tumben banget ga minta dijemput?”

“Ga mau ah, adek kan mau mandiri. Mas sendiri kan yang bilang adek harus mandiri, jangan bergantung terus ke mas. Oh iya, ibu tadi bilang apa aja, aiy?” Tanya Marcella.

“Biasa, cepet beresin skripsinya, Mbak Marcella apa kabar, dan macem-macem lah. Adek dicariin tuh tadi, katanya ga pernah sms lagi. Sekali-kali sms lah sekedar nanya apa kabar ama lagi apa. Segitu juga udah cukup kok.”

“Iya, entar ya kapan-kapan. Eh, adek ada surprise lho buat mas. Coba tebak.”

“Nasi pecel?” Tyo langsung menjawab.

“Iiih, nasi pecel darimana coba! Clue-nya musik mas.” Marcella tersenyum. Senyum yang khas. Berganti posisi, duduk saling berhadapan.

Menghela nafas panjang. “Rambut Bob Marley? Soft lens Marilyn Manson? Topi koboi Sujiwo Tejo?”

“Iiiiih, yang serius dong jawabnya!!” Mulai agak kesal dengan sikap kekasihnya yang terkesan acuh tak antusias. Tangan lembut Marcella berpaling mengambil tasnya.

“Ya apa sayaaang?”

“Kasih satu kali kesempatan nebak lagi deh, kalo salah keterlaluan ya mas.” Marcella tersenyum lagi. Senyum yang khas.

Tyo menggumam sendiri dalam hati, “Ngasih clue cuma satu, musik lagi. Emangnya musik itu sebesar nasi kucing apa.” Berpikir keras mencoba menerkanya. Tiba-tiba sedikit berteriak penuh semangat.

“Album terbaru SBY!!!”

“Mmmaaaaassss!!!” Kali ini Marcella benar-benar terlihat marah, cemberut. “Ya udah ga jadi deh, buang aja surprise-nya!!”

“Ayolaah, gitu aja marah. Lagian adek ngasih clue cuma satu, mana bisa ketebak. Deddy Corbuzier aja belum tentu bisa.”

“Tau ah! Nih!!” Marcella mengeluarkan sesuatu dari dalam tas. Memberikannya pada Tyo. Sekeping CD Slank, lengkap dengan cover yang terbalut plastik yang masih tersegel rapi. Album Slank terbaru, “I Slank U”.

“Oh, ini.”

“Tuh kan biasa aja tanggapannya!!”

“Iya, mas seneng kok dibeliin CD Slank. Adek tau aja mas sukanya apa.” Tyo mencoba menghibur.

“Bilang apa?” Marcella masih cemberut.

“Makacih adeeeeek. Mmmuuuuaaaakk, eh, mmmuuuuaaacchh.” Tyo menjontorkan bibirnya.

“Eh, tapi adek kapan ke KFC? Belinya di sana kan?” Tyo bertanya tiba-tiba.

Bila cinta tak indah bagimu mengapa kau tetap bertahaaan ...”

Belum sempat menjawab. Cuplikan lagu itu memberi pertanda bahwa ada panggilan telepon masuk. Meski tenggelam dalam saku celana, bunyinya masih terdengar jelas lagi jernih. Tetapi tidak suara vokalisnya, cenderung fals.

“Ih, lagu ringtone-nya aneh. Itu ada yang nelpon, mas.”

“Iya, biarin. Paling ibu lagi.”

“Kasian dong, angkat lah.”

“Ga usah, ntar dimarahin lagi.”

“Satya Reksabumi sayaaang, angkat laah.”

“Mas cape dimarahin mulu. Barusan juga udah dimarahin gara-gara skripsi belum beres.”

Hingga Pidibaiq kelelahan dan putus asa mengingatkan ada panggilan telepon masuk melalui lagunya, tak juga Tyo mengambil handphone-nya. Bunyi ringtone berhenti.

“Ya makanya dikerjain, biar ga dimarahin terus.”

“Iya, entar. Adek udah maem?”

“Udah tadi di kopma, maem mie ayam.”

“Euh, bukannya bawain buat mas.”

“Boro-boro bawain, tadi aja makannya ga nafsu.”

“Kenapa? Ga enak?” Tyo heran dan penasaran. Biasanya Marcella selalu lahap. Bahkan Benu Buloe jauh kalah lahap jika membandingkannya dengan Marcella ketika makan Tongseng Kambing.

“Mie ayamnya enak, tapi ada orang di kopma bikin adek jadi ga nafsu makan. Udah aja buru-buru diabisin tuh mie-nya.”

“Katanya ga nafsu, tapi abis juga makannya. Aneh.” Tyo mengejek. Sedikit tertawa.

“Eh iya ya. Pokoknya adek bete tadi di kopma!” jawabnya ketus.

“Ya Emang ada siapa sih? Justin Bieber dan Channing Tatum lagi nongkrong di kopma? Pegangan tangan terus ciuman?”

“Bukaaan! Ga mungkin yal!! Mereka kan pria sejati!! Weeek!!” Hidung mengembang. Lidah menjulur.

“Itu kan kata adek. Iye terus siape?”

“Kecengan mas yang baru tuh!”

“Dik Attena?”

“Tuh kan pake ‘dik’ lagi!”

“Dik tuh maksudnya adik, dia kan adik kelas mas. Adik kelas adek juga kan. Heheu.”

“Semuanya aja yang  mas keceng ditambahin adik! Rissa, temen sekelas mas juga dikasih adik depannya!!”

“Rissa umurnya lebih muda 2 hari dari mas. Udahlah ga penting dibahas. Emang Attena ngapain?”

“Nyanyi dangdut sambil joget-joget, dempul makeup dia kan tebel tuh kayak penyanyi dangdut.”

“Wah, kenapa ga bilang? Tau gitu mas nyawer tadi. Hahaha.”

“Tuuuu kaaaaaan!!!!!  Bener-bener ya mas tuh nyebelin banget!!”

“Ya abis adek juga ngarang ga jelas, mana mungkin juga Attena kayak gitu.”

“Bela aja terus tuh penyanyi dangdut!!”

“Terserah lah, bukan urusan mas ini.”

“Udah tau salah, ga ada inisiatif minta maaf lagi! Minta maaf ga?”

“Iyee maaf mas salah. Hmm.” Menjabat tangan. Mencium tangan Marcella.

“Tadi adek curi denger obrolan si dangdut sama temen-temennya.”

Tyo mengganti posisi duduk. Mendekat ke Marcella. Dengan seksama memperhatikan kata demi kata yang mengalun dari bibirnya. “Hmm, terus?”

“Iya, dia kayak yang kegatelan gitu …”

“Belum mandi kali.” potong Tyo.

“Heh! Orang belum beres ngomong juga! Mau dilanjutin ga?” sorot mata melotot. Menikam setiap insan yang memandangnya.

“Hmm, terus?”

“Teras-terus kayak tukang parkir aja.”

“Hmm, kemudian bagaimana kelanjutan ceritanya adek Marcella, sayangnya maas?”

“Dia bilang ada senior yang lagi deketin dia. Udah sering sms-an ama telpon-telponan gitu. Ih, kayak yang seneng gitu dia ada yang deketin, senior pula. Terus temen-temennya pada ngeciye-ciye-in gitu ke si dangdut.”

Sambil mengeluarkan handphone yang sedari tadi bersemayam di dalam saku celananya. Beberapa kali memencet keypad. Tyo pindah posisi. Tiduran. Bersandar di paha Marcella yang masih duduk bersila.

“Mas dengerin ga sih? Malah main handphone!!”

“Iya, dengerin kok. Abis itu gimana?” Tyo masih memainkan jarinya dengan gesit dan lincah.

“Terus temen-temennya nyuruh dia nelpon si senior. Si dangdut senyum-senyum malu gitu. Eh, nelpon juga dia.”

“Didengerin ga Attena ngomong apa?”

“Enggak lah, udah eneg duluan. Adek langsung buru-buru ke sini tadi.”

Tyo selesai memainkan handphone-nya. Memasukkan lagi ke dalam saku celana. Duduk lagi, bersila, bersandar tembok. Bersanding dengan Marcella.

Marcella menyandarkan kepala di pundak Tyo. Tangan mereka saling berpegangan.

“Mas ga macem-macem kan?” suara Marcella patah-patah.

“Masa mas disamain sama tempe?”

“Itu tempe bacem, mas!!”

Lepas kepala dari sandaran pundak Tyo, Marcella tersenyum. Berpelukan, sangat erat. Menyandarkan kepala di dada Tyo. Detak jantungnya terdengar berdegup. Tyo menghela nafas panjang. Rambut panjang yang harum semerbak mewangi dicium dan dibelai Tyo dengan penuh kelembutan. Cukup lama mereka berpelukan.

Handphone Marcella berdering. Pelukan terlepas. Marcella mengambil handphone dari dalam saku celananya. Sedikit gugup.

“Oh iya lupa, sekarang ada makeup kelas Corpus Linguistics. Mas anterin adek ke kampus ya? Yayayaya?”

“Hmm.”

Menaiki sepeda motor, mereka menuju kampus. Sepeda motor itu sudah sekitar 2 tahun selalu siap siaga bersedia dan setia mengantar dua sejoli ini kapan pun dan kemana pun mereka pergi. Jalan menuju kampus sedang sepi. Hangat erat pelukan tangan Marcella. Tangan kiri Tyo mengelus-elus pelukan erat tangan Marcella di perutnya. Tangan kanan tentu saja mengatur laju kecepatan sepeda motor. Mendekatkan kepala sedikit ke depan, Marcella berbisik, “I love you”. Tyo diam, menghela nafas panjang. Tangan kiri masih mengelus-elus. Tersenyum pada Marcella yang ia lihat dari spion motornya. Sejenak berpandangan. Saling melempar senyum melalui kaca spion.

Memasuki kampus, melewati kopma. Rute ke gedung tempat Marcella kuliah memang mengharuskan melewati kopma, tak ada jalan lain. Melihat ke arah kopma. Benar apa kata Marcella, ada Attena di sana. Dia duduk, sendirian, melamun, berpangku sebelah tangan. Segelas jus warna kuning yang masih utuh menemaninya di atas meja. Mungkin jus mangga, mungkin juga jus jeruk. Tyo tersenyum. Menghela nafas panjang. Arah motor berbelok, menuju gedung tempat Marcella kuliah. Setibanya di depan gedung, laju motor terhenti. Marcella turun.

“Helmnya adek bawa ya mas. Biar ntar mas ga usah repot bawa helm lagi pas jemput adek.”

“Tumben.” Kata Tyo dalam hati.

“Adek masuk dulu ya. Makasih mas udah dianterin.”

“Ntar pulang jam berapa?”

“Ntar adek sms lagi aja.”

Suatu kebiasaan, Marcella menjabat dan mencium tangan Tyo. Berjalan pelan. Berbalik Marcella menengok ke belakang. Melambaikan tangan sejenak. Melanjutkan langkah kaki memasuki bangunan yang terhitung baru namun sudah mulai nampak retak-retak temboknya.

“Eh, tapi adek kapan ke KFC?” Tyo sedikit berteriak.

Tak mungkin Marcella tak mendengarnya. Ia tetap berjalan pelan. Semoga memang tak terdengar, katanya dalam hati. Menghela nafas panjang. Menyalakan motor, bertolak meninggalkan gedung yang hanya sekali-kali dia memasukinya untuk bimbingan skripsi.

Dalam perjalanannya pulang, Attena masih di kopma, masih duduk, masih sendirian, masih melamun, masih berpangku sebelah tangan. Volume jus kuning dalam gelas berkurang seperempat. Pelan-pelan motor melaju. Mencoba mengamati dengan seksama sosok Attena. Merasa ada yang sedang memperhatikannya, Attena terbangun dari lamunannya. Sifat alamiah wanita, selalu sadar ketika ia diperhatikan. Attena dan Tyo saling berpandangan, cukup lama. Tyo tersenyum. Attena meraih handphone yang tergeletak di atas meja. Mata masih saling memandang hingga akhirnya terhalang oleh rerimbunan pohon. Attena tak terlihat lagi. Tyo memalingkan pandangan. Menghela nafas panjang. Tersenyum lagi. Berbelok keluar dari mulut gerbang kampus.

Di luar gerbang kampus, Tyo bertemu teman Marcella. Sahabat lebih tepatnya. Laju motor terhenti, ia menyapa.

“Heh, ga kuliah?”

“Kuliah apa, Kak?”

“Itu tadi Marcella bilang ada makeup kelas Corpus Linguistics?”

Bengong sejenak. “Eh, ga tau, Kak, aku ga ngontrak itu. Eh, Kak, duluan ya.” Memasuki angkot yang baru saja tiba. Berlalu bersama asap tebal menyembur dari knalpot. Tyo terdiam. Menghela nafas panjang.

Jalanan masih sepi. Cenderung teduh hari itu. Karena sedang mendung. Tyo mencoba menghidupkan motor. Melaju pelan, sangat pelan. Handphone dalam saku celana bergetar, bernyanyi. Tyo berhenti sejenak, kembali menarik gas, sangat pelan. Terdengar ringtone sayup-sayup. Tersenyum. Menghela nafas panjang.

Bila cinta tak indah bagimu mengapa kau tetap bertahaaan ...”

Advertisements

3 thoughts on “Hati-hati, Hati Abu-abu

  1. reza says:

    Mas, saya janji beri komen, tapi baru terlaksana sekarang. Maaf.

    well… diksi, konflik, simbolisme dan pesan biarlah menjadi bagian orang-orang yang lebih berwenang. saya cuma mau bilang ‘hihihi’ dan mengapresiasi. keep writing!

    komen untuk komenmu: saya mau percaya buah kesabaran selalu manis. cuman, sulit sekali menemukan ke’manis’annya… 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s