Siapa yang Benar

Siapa yang Benar

TAHUN ini tahun kabisat. Februari sudah lewat. Hanya empat tahun sekali usia bulan kedua ini sebanyak dua-sembilan. Sudah segudang lelucon umur orang yang dulu lahir di tanggal itu. Mereka yang baru bertambah angka usianya sekali setengah windu.

Tapi yang jelas Bumi makin tua. Pun begitu mantan presiden RI ketiga yang sedang dirawat di rumah sakit. Semoga segala kebaikan menyertainya. Dan tentunya, kebaikan menurut Tuhan tak selalu sama dengan apa yang ada dalam pikiran manusia.

Di sebuah kamar kontrakan sederhana sayup terdengar suara seseorang sedang bercengkerama melalui telepon. Dari obrolan yang diperdengarkan, tampak sekali orang ini sangat akrab dengan suara di seberang.

‘’Iya, sami-sami, Do. Sekali lagi, selamat ya. Aku turut bahagia.’’

Blok menutup teleponnya. Dalam santai duduknya, dia pandang sore langit yang mendung setengah.

‘’Heh, kamu habis telepon sama siapa tadi?’’ kata Gob yang tiba-tiba muncul di hadapan Blok.

‘’Eh, kamu, Gob. Itu, Leonardo DiCaprio …’’ jawab Blok membetulkan posisi duduknya.

‘’Weleh-weleh, Leonardo DiCaprio yang aktor Amerika itu? Kamu kenal?’’ Gob tak menyangka temannya yang serabutan itu mengenal aktor kenamaan negeri Paman Sam tersebut. Bahkan mengaku habis berbincang via telepon.

‘’Ya kenal dong. Gini-gini, temanku bukan orang sembarangan lho,’’ sahut Blok menyeringai.

‘’Lalu doi tadi bilang opo?’’

‘’Dia bilang terima kasih. Setelah bertahun-tahun berkarir di dunia peran, dia akhirnya didapuk jadi aktor terbaik di ajang Piala Oscar kemarin.’’

‘’Ngapain Leonardo DiCaprio berterima kasih sama kamu?’’

‘’Lhooooo, jangan salah. Kamu jangan lupa, aku ini salah seorang temannya. Aku ikut mendoakan dia biar berprestasi di bidang film.’’

‘’Teman apa relawan?’’

‘’Eh, apa bedanya?’’

Kata Gob, untuk sekarang ada perbedaannya. Relawan kurang lebih artinya orang yang rela. Di satu sisi, mereka rela mendukung seseorang untuk menjadi dan atau melakukan sesuatu. Di sisi yang lain, mereka pun rela jika suatu saat diberi sesuatu oleh seseorang itu.

‘’Kalau teman?’’ tanya Blok.

Awalnya sih sama. Mereka sama-sama ngasih dukungan. Tapi aku belum tahu sisi lainnya. Jika seseorang itu berhasil mencapai apa yang dicita-citakan temannya, apa mereka nanti dikasih sesuatu atas nama teman atau tidak. Kita tunggu saja nanti. Heuheuheu.

‘’Kamu yang mana, Blok?’’

‘’Waduh, kalau begitu aku bukan dua-duanya, Gob. Aku ini teman yang nggak mengharapkan apa-apa.’’

‘’Yakin?’’

‘’Yakin lah.’’

Sekarang sih Blok boleh yakin. Suatu saat nanti Leonardo DiCaprio ada garapan bikin film. Ternyata eh ternyata, sebagai temannya, Blok nggak diajak ikut proyek itu.

‘’Kamu masih mau jadi temannya? Lha wong dia saja nggak ngajak kamu bikin film bareng kok.’’

‘’Suwer samber geledek aku tetap jadi temannya,’’ jawab Blok meyakinkan.

‘’Yakin?’’ tanya Gob belum percaya sepenuhnya pada sahabatnya itu.

‘’Kamu ini temanku bukan sih? Kalau kamu memang temanku, seharusnya kamu ini sudah paham luar-dalam tentangku,’’ ujar Blok mulai kesal.

‘’Oke oke oke oke, aku percaya sama kamu deh.’’

‘’Gitu dong. Terus maksud dan tujuan serta visi dan misi kamu datang kemari mau ngapain? Kamu mau bikin konser dadakan di sini? Ini bukan gedung KPK, bung!’’

‘’Visi dan misi? Aku ini bukan bakal calon gubernur DKI Jakarta yang harus punya visi dan misi. Maksudku ke sini mau ngajak kamu ke warung Mbok Nom, Blok.’’

‘’Ini kan masih sore, Gob. Biasanya kita ke sananya kan malam.’’

‘’Tadi Mbok Nom telepon, katanya beliau minta bantuan.’’

‘’Bantuan opo?’’

‘’Lha embuh, kayaknya beliau butuh banget, Blok.’’

‘’Ya sudah kalau begitu, ayo kita ke sana.’’

Detik tergelincirnya surya di ufuk barat cakrawala menjadi saksi perjalanan dua manusia nggak jelas ini. Mereka juga turut menyaksikan betapa tumpukan kulit kabel di pinggir jalan. Sampah yang bisa menyumbat aliran air karena dibuang di got alias saluran air. Siapa pun yang berbuat, biar Tuhan saja yang tahu. Heuheuheu.

‘’Assalamualaikum, Mbok Nom,’’ kata Gob dan Blok mengucapkan salam begitu sampai di warung.

‘’Waalaikum salam. Eeeeh, ada Nak Gob dan Blok,’’ sahut Mbok Nom.

‘’Nggih, Mbok. Katanya perlu bantuan, Mbok. Apa ya? Kami siap membantu,’’ ujar Blok.

‘’Ini lho, Nak Gob dan Blok. Mbok perlu bantuan kalian buat masak nasi goreng. bisa to kalian?’’

‘’Wooo, ya jelas bisa dong, Mbok,’’ jawab Gob dan Blok serempak penuh semangat.

‘’Yang biasa masak nasi goreng lagi nggak bisa masuk. Untuk sementara, kalian saja yang memasaknya. Gimana?’’

‘’Oke, Mbok. Kami siap!’’

‘’Ya bagus kalau begitu, Nak Gob dan Blok. Kebetulan barusan ada pengunjung yang pesan nasi goreng. Segera dibikinkan, ya …’’

‘’Siap laksanakan, Mbooook!’’ sahut Gob dan Blok kompak bersamaan.

‘’Kalian yang semangat dan yang total ya kalau bekerja. Ingat, beberapa hari lagi ada gerhana matahari total lho. Matahari saja kalau pas gerhana bisa total, mosok kalian ndak bisa.’’

‘’Siap laksanakan, Mboook!’’

Sejurus kemudian, mereka memasang wajan di atas kompor. Menyalakan kompor dan menuangkan minyak goreng di wajan. Begitu minyak goreng mulai sedikit panas, mereka memasukkan bumbu yang sudah disediakan.

Masalah bermula di sini, mereka tiba-tiba perselisih paham. Gob berpendapat bahwa telur dalam nasi goreng harus dipisah ketika dimasak. Telur itu harus disajikan dengan cara didadar atau diceplok. Begitu nasi goreng yang sesungguhnya menurut Gob.

Sementara Blok justru berpendapat sebaliknya. Menurutnya, sebenar-benarnya nasi goreng itu ya telurnya dicampur. Telur dimasak bareng bersama nasi ketika dimasak di atas wajan.

Perdebatan mereka berlanjut. Sedangkan nasib pesanan nasi goreng pesanan pengunjung warung Mbok Nom entah ke mana. Tidak ada juntrungannya. Gob dan Blok yang didapuk menjadi koki dadakan malah bertengkar di dapur soal telur dalam nasi goreng.

‘’Nak Gob dan Blok, pesanan nasi gorengnya sudah belum? Yang cepat ya, itu pelanggan sudah pada nunggu,’’ ucap Mbok Nom yang lagi sibuk bikin kopi bagi pengunjung warungnya.

‘’Iya, Mbok. Sebentar lagi,’’ jawab Gob dan Blok berbarengan.

‘’Tuuh, nasi gorengnya sudah banyak yang nunggu. Kita malah debat nggak jelas begini. Ayo kita segera bikin nasi gorengnya,’’ ucap Blok.

‘’Oke. Tapi telurnya tetap didadar atau diceplok ya.’’

‘’Wooo, tidak bisa! Nasi goreng yang enak itu telurnya dicampur pas masak nasinya!’’

‘’Ora iso! Kamu ini ngeyel ya kalau dibilangin. Kalau telurnya dipisah alias didadar atau diceplok, secara visual nasi gorengnya lebih menarik. Otomatis, pelanggan yang melihatnya semakin nafsu untuk memakannya.’’

‘’Tidak bisa! Nasi goreng itu yang betul ya telurnya dipisah! Kamu ini gimana sih, Gob. Sudahlah nurut apa kataku saja! Aku ini sudah ahli dalam hal begini!’’

‘’Prett! Yang betul itu ya telurnya dicampur sekalian sama nasi pas digoreng! kamu salah besar, Blok!’’

Suara kegaduhan itu sampai juga di telinga Mbok Nom yang berada tak jauh dari mereka berdua. Tanpa pikir panjang, perempuan paro baya itu menghampiri Gob dan Blok.

‘’Aduuuh, pusiiiiiiinngg,’’ ujar Mbok Nom menirukan gaya Peggy Melati Sukma dalam salah satu sinetron di masa lampau. ‘’Kalian ini dari tadi ngapain saja? Pelanggan banyak yang tanya kabar nasi goreng pesanan mereka. Sepertinya mereka sudah nggak sabar. Kalau kelamaan nanti mereka bisa kabur dan nggak mau ke sini lagi gara-gara trauma.’’

‘’Iya, Mbok,’’ jawab Gob dan Blok kompak.

‘’Anu, Mbok, nasi goreng yang benar itu telurnya dipisah atau dicampur?’’ tanya Gob.

‘’Iya, Mbok. Kami dari tadi bingung. Gob ngeyel telurnya harus dipisah. Sedangkan menurut saya mestinya dicampur,’’ tanya Blok juga.

Mbok Nom geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan dua pembantu dadakannya tersebut. Dalam benaknya, haruskah dia me-reshuffle dua pembantunya yang bikin gaduh itu. Atas ulah keduanya, bisa-bisa warung Mbok Nom merugi karena ditinggal pelanggannya karena pesanan nasi goreng yang tak kunjung datang.

Mbok Nom tak menjawab pertanyaan Gob dan Blok. Dia hanya memandang keduanya sambil menghela nafas panjang. (dsk/)

Let’s Go

Let's Go

MENJADI pemuda nggak jelas memang bikin pontang-panting. Siang itu, Gob kelihatan terburu-buru sekali. Jalannya cepat. Kecepatannya hampir menyamai Son Goku ketika menggunakan jurus berpindah tempat . Mak wuzzzzz.

Namun sayang, gerak langkah Gob ternyata tak secepat yang dibayangkan. Dia menemui kesulitan mencapai tempat tujuannya lantaran jalan yang dilaluinya lagi macet. Trotoar yang seharusnya jadi lajurnya diserobot motor. Apa boleh buat, Gob mesti mengalah sedikit.

‘’Gimana ya caranya biar trotoar tetap berfungsi bagi pejalan kaki,’’ Gob menggerutu sepanjang perjalanannya.

‘’Mosok kita protes minta pelebaran trotoar seperti yang biasa dilakukan di jalan aspal. Atau bahkan minta dibikinkan flyover trotoar. Ah, ada-ada saja kamu ini, Gob,’’ ucapnya pada diri sendiri.

Akhirnya, tiba sudah Gob di kontrakan Blok. Sahabatnya itu lagi leyehleyeh di teras kontrakan. Ternyata Blok habis setrika bajunya yang sudah menggunung. Maklum beberapa hari hujan melulu. Jadi dia nggak bisa nyuci baju karena takut nggak kering. Hari itu terang benderang. Saat yang tepat untuk mencuci.

‘’Weleh weleh, santai benar uripmu, Blok,’’ sapa Gob.

‘’Aku habis nyetrika baju, Gob. Istirahat dulu sambil menyapa matahari yang lagi panas.’’

‘’Kamu ini nggak up to date ya. Sekarang sudah bukan zamannya lagi nyetrika di rumah. Sekarang ada yang punya kerjaan baru, setrika keliling.’’

‘’Waaah, ada to?’’ tanya Blok terkejut.

‘’Ada. Kamu tahu omzet mereka? Rp 9 juta, Coy!!’’

‘’Wow, hebat! Tapi aku nggak mau mengikuti mereka ah. Takut dikira nyerobot lahan rezeki orang.’’

‘’Yo sakarepmu. Yang penting kita harus tetap bergerak.’’

‘’Setuju. Tapi aku mau istirahat dulu. Eh, ngomong-ngomong kamu ngapain mendadak ke sini. Pasti ada urusan penting ya.’’

Ternyata ungkapan tamu membawa rezeki itu ada benarnya juga. Kedatangan Gob ke kontrakan Blok membawa kabar gembira. Dia lagi dapat proyek sesuatu yang lokasinya nun jauh di sana.

Sebagai sahabat yang baik, dia mengajak Blok ikut menggarap proyek itu. Gob masih belum memberitahu lebih rinci pada Blok. Dia juga bungkam soal berapa bayaran yang bakal didapat kalau mengerjakan proyek tersebut.

Gob cuma pengin melihat reaksi Blok. Dia penasaran, apa Blok tetap mau diajak kerja kerja kerja walau tempatnya dirahasiakan. Apa dia tetap manut ikut meski tidak diberi tahu berapa nominal uang yang bakal diterimanya. Yang bukan tidak mungkin sama dengan harga kantung plastik belanja yang sekarang dikenai biaya.

Nyatanya Blok tidak mempedulikan semua itu. Dia langsung hey ho let’s go mendengar ajakan sahabatnya itu. ‘’Ayo, aku siap berangkat!’’ ucap Blok yang seketika beranjak dari kursi malasnya.

‘’Yakin?’’ tanya Gob memastikan.

‘’Haqul yakin, Gob. Ayo kita let’s go!’’

‘’Kalau ternyata pekerjaannya kita disuruh menjadi bawahan pejabat gimana? Terus kita dijadikan sasaran kemarahan beliau yang baru saja dilantik piye? Masih mau?’’

‘’Halaaah, itu mah kecil,’’ sahut Blok sambil menjentikkan jari kelingkingnya. ‘’Amarah beliau nggak ada apa-apanya dibanding kerasnya kehidupan kota yang sudah kulalui,’’ lanjutnya.

‘’Kalau ternyata pekerjaannya disuruh memalsukan tanda tangan absensi anggota DPR gimana? Misalnya pas si anggota DPR ini lagi ke luar kota, tapi dia tetap pengin tampak masuk, kumaha?’’

‘’Ya kalau dapat gaji sebesar mereka sih akurapopo. Heuheuheu. Toh, apa sih dari mereka yang nggak palsu. Janji kampanye dulu bukan tidak mungkin sekarang sudah jadi janji palsu. Janji kampanye saja dipalsukan, mosok tanda tangan absen juga harus asli.’’

‘’Hmmmm …’’ Gob masih belum yakin mau mengajak sahabatnya itu.

‘’Bagaimana kalau kerjaan kita ini disuruh ikut menguji urin anggota DPR?’’

‘’Kamu nggak usah banyak tanya. Pokoke melu!’’ jawab Blok menirukan gaya nyanyian lagu campursari itu.

‘’Tapi itu bisa kapan saja lho. Kapan saja ita harus siap. Soalnya katanya tes urin ini diadakan mendadak,’’ jelas Gob lagi.

‘’Pokoknya aku yes!’’ jawab Blok meyakinkan. ‘’Eh, tapi jadwal dadakan itu bisa bocor nggak? Kalau di sekolah, yang namanya tes atau ujian itu suka ada yang bocor. Entah itu soalnya yang bocor atau bahkan jawabannya. Nanti jangan-jangan jadwalnya sudah bocor. Bukan tes urin secara mendadak lagi dong namanya.’’

‘’Tapi kamu mau nggak dikasih kerjaan ini?’’ tanya Gob lagi.

‘’Wooo, ya jelas siap dong! Asalkan mereka pipisnya nggak di sembarang tempat. Nanti kayak yang terjadi di India. Polisi setempat menghukum warganya yang pipis sembarangan dengan cara dikalungi karangan bunga.’’

‘’Okelah kalau begitu. Mmmmm, satu pertanyaan lagi, gimana kalau ternyata ….’’

Belum selesai Gob bertanya, sudah di-cut Blok, ‘’No more question! Sudah, jangan banyak tanya. Jadi nggak nih perginya? Ayo!’’

‘’Oh, iya. Let’s go!’’

Kemudian dua sahabat itu bergegas ke bandara terdekat. Mereka memilih tidak menggunakan kendaraan umum. Bukan karena takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti kecopetan atau kecelakaan. Mereka juga tidak naik ojek online. Bukan juga karena takut tiba-tiba si pengemudi ojeknya usil melakukan pelecehan seksual.

Mereka ke bandara jalan kaki. Jaraknya cukup jauh memang dari kontrakan Blok. Tapi apa boleh buat, mereka tidak memilih menggunakan moda transportasi umum maupun ojek online. Semua ini dikarenakan duit mereka lagi tipis.

Atas nama kesehatan, mereka jalan kaki saja. Ibarat pepatah sekali mendayung dua-tiga pulau terlampaui. Jalan kaki tentu menyehatkan secara tubuh. Pun, itu turut menyehatkan dompet mereka yang sudah lusuh, tipis pula.

‘’Fiuuuh, akhirnya sampai juga kita,’’ ucap Blok terengah-engah kecapaian.

‘’Iya,’’ jawab Gob yang nafasnya juga ngos-ngosan.

‘’Eh, ngomong-ngomong, memangnya kamu sudah punya tiket yang diatasnamakan namaku?’’

‘’Sudah dong. Aku sebelumnya sudah yakin kamu bakal ikut. Makanya aku sudah memesankan tiket buatmu. Nih,’’ kata Gob sambil menyerahkan tiket kepada Blok.

‘’Waaah, sip deh,’’ sahut Blok sumringah mendapati secarik tiket bertuliskan namanya. ‘’Aku pengin cepat-cepat sampai di sana dan bekerja. Rasa capek jalan kaki ini pasti langsung hilang begitu kita sampai di lokasi proyek yang kau ceritakan itu.’’

‘’Anggap saja jalan kaki barusan pemanasan. Sebelum nanti terbiasa bekerja di sana.’’

‘’Memangnya kita bakal kerja di mana sih, Gob?’’

‘’Rahasia.’’

‘’Memangnya kita bakal kerja jadi apa sih, Gob?’’

‘’Itu juga rahasia. Sudah, nggak usah banyak tanya. Ayo kita masuk.’’

Begitu masuk bandara, betapa kagetnya Gob yang disusul Blok setelahnya. pesawat yang seharusnya mereka tumpangi sudah berangkat beberapa menit yang lalu.

Mendapati nasib nahasnya hari itu, Gob berdiri mematung dan melongo. Dia tak menyangka bakal ketinggalan pesawat. Blok yang melihat sahabatnya diam tak bergerak serta mimik wajahnya melongo, ikut-ikutan juga.

Bayangan Blok yang menggambarkan betapa senangnya dia mendapat pekerjaan muspra sudah. Dia tidak bisa lagi berkhayal bekerja dengan semangat yang keras di suatu tempat yang belum diberi tahu Gob. Blok juga tidak bisa lagi berimajinasi tentang gaji yang bakal dia terima setiap bulan. Yang kemungkinan besar jumlahnya lebih besar dan datangnya lebih pasti dibandingkan saat dia jadi pemuda serabutan.

‘’Kamu sih tadi kelamaan berkemasnya!’’ gerutu Gob pada Blok.

‘’Lho, kok kamu nyalahin aku?! Seharusnya kamu yang salah. Coba tadi kamu nggak banyak tanya, kita pasti tepat waktu yang ke sini.’’

‘’Kenapa juga kamu menjawabnya!’’

‘’Tunggu dulu. Mungkin saja kita ini sebetulnya datang tepat waktu. Tapi pesawat itu berangkatnya terlalu cepat alias mendahului jadwal pemberangkatan.’’

‘’Hmm, bisa jadi itu benar, Blok. Aku mau protes ah! Aku mau direksi maskapai penerbangan ini dievaluasi dan diganti! Titik!’’

‘’Kamu jangan ikut-ikutan menteri itu dong, Gob! Gara-gara ketinggalan pesawat mosok langsung minta direskinya diganti. Mending sekarang kita ngopi di warung Mbok Nom saja …’’ (dsk/)

Gobernur

Gobernur

HIDUP di kota besar memang panas. Ya panas cuacanya kalau nggak lagi hujan. Ya panas kalau tidak pasang AC di setiap bilik perkantoran gedung bertingkat yang dinding kacanya menyilaukan mata. Ya panas hatinya kalau kepanasan di jalanan yang macet. Apalagi ditambah nada klakson yang seakan bisa memecah jalan yang selalu penuh kendaraan.

Saat panas begini, otak mesti dipercepat berputarnya untuk mencari jalan keluar dari kepanasan ini. Panas pantas digunakan untuk mematangkan sesuatu. Beras perlu dipanaskan dengan cara tertentu agar menjadi nasi. Pun mungkin manusia mesti diberi panas dulu biar bisa menjadi insan yang menyejukkan Bumi.

Dan itu yang terjadi dengan Gob dan Blok. Mereka tengah asyik bercengkerama di warung kopi Mbok Nom. Mereka berada di antara pengunjung yang memperdebatkan kepantasan APBN digunakan Rio Haryanto agar bisa berkiprah di ajang F1. Atau layak tidaknya UU KPK direvisi.

‘’Hmmm, hari ini panas sekali, Blok,’’ ucap Gob sambil menyecap kopi hitamnya.

‘’Iya, nih. Semuanya panas. Kopiku juga masih panas. Aku takut lidahku melepuh kalau langsung menyeruputnya.’’

‘’Aku lagi bahas cuaca kamu malah ngomong soal kopi.’’

‘’Yang namanya cuaca dari dulu kalau tidak dingin ya panas, Gob. Apanya yang mau dibahas?’’

‘’Bantu cari jalan keluarnya kek. Biar kita bisa betah hidup di sini.’’

‘’Aku belum siap jadi gubernur, Gob.’’

‘’Lho, apa hubungannya cuaca panas sama gubernur?’’

‘’Ada dong! Akhir-akhir ini sering muncul tokoh yang seolah-olah bisa melesaikan masalah Ibukota.’’

‘’Terus?’’ tanya Gob yang masih belum paham.

‘’Kemungkinan besar mereka pengin jadi Gubernur Jakarta.’’

Kursi orang nomor satu di Ibukota ini memang sudah panas sejak dulu. Meski pemilihan baru dimulai tahun depan, geliatnya sudah terasa mulai sekarang. Mulai terlihat orang-orang dari segala latar belakang dengan segala agendanya. Mereka berbicara tentang semua permasalahan yang terjadi di sini. Berikut membawa solusi yang mereka anggap bisa meluruskan benang yang terlanjur kusut.

‘’Memangnya harus jadi gubernur dulu ya untuk bisa menyelesaikan masalah di Jakarta? Kalau memang merasa bisa mengakhiri karut marut ini, ya kerjakan saja. Tapi kenapa mesti jadi gubernur dulu?’’ tanya Gob.

‘’Kemungkinan besar, mereka itu nggak ikhlas, Gob.’’

Gob semakin bingung dengan sahabat karibnya tersebut.

Kalau solusi itu benar-benar dijalankan dan ternyata sukses. Kemungkinan besar yang mendapat nama baik tentu saja pemimpin yang sedang menjalankan daerahnya. Nanti sejarah bilang, kota ini berhasil keluar dari kesemwarutan berkat kerja keras gubernur anu. Mungkin cuma sedikit yang mencatat kesuksesan itu berkat gagasan dari si ini, si itu, si apa, relawan, teman, atau yang lain.

‘’Waaah, suudzon-mu kebablasan, Blok.’’

‘’Tapi bisa saja kan hal itu terjadi.’’

‘’Iya, sih. Tapi kalau kasusnya seperti ini lain lagi.’’

Gob menuturkan, kalau tidak jadi pemimpin, bakal susah merealisasikan  pembenahan yang lebih baik. Mungkin pengin jadi gubernur karena selama ini suara mereka tidak didengar oleh pemimpinnya. Boro-boro gagasan itu direalisasi, didengar saja sudah syukur.

‘’Waaah, berarti lebih susah mana? Jadi gubernur dulu baru membenahi kota, atau membenahi kota tanpa harus jadi gubernur?’’

‘’Kalau itu aku nggak tahu. Yang jelas, kalau masukan untuk perbaikan kota tidak didengar, ya mending jadi gubernur sekalian saja. Dengan begitu solusi yang mereka canangkan bisa direalisasikan dengan baik dan benar. Demi apa? Demi bangsa dan negara!’’

‘’Hmmm, bisa jadi, Gob,’’ kata Blok sambil manggut-manggut. ‘’Tapi jadi gubernur itu mudah lho,’’ lanjutnya lagi.

‘’Mudah gundulmu, Blooook, Blok. Mereka juga harus meraih suara terbanyak untuk menjadi juara satu dalam pemilihan nanti.’’

‘’Itu dia! Jadi nomor satu itu mudah. Yang susah itu jadi nomor dua.’’

‘’Kok bisa?’’

‘’Ya iya dong!’’ sahut Blok.

Ibarat balapan, anggap saja balapan mobil F1. Anggap saja pembalapnya nggak pakai duit APBN buat kebut-kebutan di sirkuit. Kalau mau jadi nomor satu, tinggal ngegas sekencang-kencangnya. Kalau Tuhan mengizinkan bisa jadi nomor satu. Nah, kalau mau jadi nomor dua beda lagi. Perjuangannya harus benar-benar pas. Terlalu semangat ngegas nanti malah kebablasan jadi juara satu. Kalau terlalu santai nanti ketinggalan jadi juara tiga. Atau apesnya lagi malah bisa nggak juara. Bahkan bisa saja malah di-overlap.

‘’Jadi juara dua memang lebih susah daripada juara satu,’’ kata Blok.

‘’Tapi, mau juara berapa pun itu, untuk ikut pertandingan ada biayanya kan. Ya mesti ikut partai politik lah, ya mesti ngumpulin fotokopi KTP lah, ya mesti kampanye lah, ya mesti ngundang penyanyi dangdut lah, dan lah-lah yang lain,’’ ujar Gob.

‘’Lagipula, juara dua nggak dapat apa-apa, Blok. Nggak dapat prestise. Nggak dapat kekuasaan,’’ lanjut Gob lagi.

‘’Eh, ngomong-ngomong soal gubernur, kamu kalau jadi gubernur gimana, Gob?’’

Mendegar pertanyaan yang diajukan sahabatnya itu, pikiran Gob langsung melayang-layang. Dia membayangkan dia menjadi gubernur seperti yang dikatakan Blok. Hmmm, dia tidak lagi takut panas karena naik mobil ber-AC. Dia tidak perlu lagi bermacet ria di jalanan. Karena dengan kuasa yang dipunya dia bisa saja melenggang dengan pasukan nguing-nguing. Oh.

‘’Heh, ditanya bukannya menjawab malah ngelamun,’’ kata Blok sambil sedikti mengguncang tubuh Gob yang wajahnya sedang senyum-senyum.

‘’Ah, kamu ini nggak pernah mau sahabatnya senang sebentar. Aku tadi lagi mbayangin jadi gubernur. Belum puas berimajinasi sudah kamu bangunkan. Huh!’’

‘’Jawab dulu pertanyaanku,’’ sahut Blok.

‘’Ya aku bakal menjadi gubernur yang baik dong!’’

Ibarat peribahasa ‘Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang’, menjadi seorang pemimpin pun demikian. Sebaik-baiknya pemimpin, dia lah yang tidak terlalu mewariskan banyak masalah pada suksesornya. Soalnya kalau masih banyak meninggalkan problem, nanti pasti disalahkan oleh pemimpin berikutnya. Menjadi sasaran kesalahan. Dikambinghitamkan.

‘’Tapi pola yang terjadi memang seperti itu kan? Selalu seolah menyalahkan yang sebelumnya. Nanti kalau ada pemimpin baru lagi, dia juga bakal menyalahkan yang sekarang.’’

‘’Makanya, kalau jadi pemimpin, aku harus meninggalkan yang baik-baik. Sebisa mungkin aku menyelesaikan masalah sebanyak mungkin selama masa jabatanku.’’

‘’Tapi tetap saja nanti kamu juga bakal disalahkan penggantimu kelak. Terus kamu mau apa? Curhat di setiap forum pertemuan di mana pun itu? Dan malah menjelekkan penggantimu. Dan bilang bahwa rakyat merindukan dan menginginkan agar kamu jadi pemimpin lagi?’’ tanya Blok.

‘’Itulah hebatnya aku. Aku nggak mau seperti itu,’’ jawab Gob sambil membusungkan dada dan menepuknya.

Gob menambahkan, ‘’Untung aku punya bakat di bidang musik. Nanti aku bisa mencurahkan semuanya menjadi rangkaian nada yang merdu. Sekalian saja aku bikin album musik yang semuanya berisi lagi curhat. Siapa tahu albumku itu nanti bisa masuk nominasi Grammy Awards.’’

‘’Memangnya kamu sudah kepikiran nama album curhatanmu itu?’’

‘’Sudah dong! Nama albumku: Masa Lalu Masalah Lu! Bukan Gue!’’ (dsk/)