Emma Watson Salah Alamat

Emma Watson Salah Alamat

KOPI memang lebih nikmat dinikmati dengan suasana hati yang tenang. Kenikmatan ini tambah mantab jiwa jika suasana sekitar pun sama-sama tenang dan nyaman. Ini bakal mendukung kesempurnaan rasa kopi.

Itu yang lagi dilakukan duo Gob dan Blok. Mereka menikmati betul kopi hitam di warung kesayangannya, warungnya Mbok Nom. Malam itu memang sedang sepi. Maklum, karena malam Minggu, warung Mbok Nom menjadi tempat yang jarang dikunjungi. Entah mengapa. Mungkin karena desain interior dan eksteriornya kurang menarik untuk dipotret dan diunggah ke media sosial. Pun lokasinya mungkin dirasa tidak membanggakan bagi generasi milenial buat sekadar check-in di media sosial mereka. Namun bagi Mbok Nom kopi beserta warungnya bukan untuk dipotret dan dibagikan lewat jejaring sosial, coffee is far beyond that.

“Uh, enak sekali kopi ini, Gob…”

Yoi, cocok buat menghiasai malam kita yang sepi…”

Tak lama mereka menikmati kopi malam itu, suasana berubah. Tiba-tiba warung Mbok Nom jadi gaduh. Penyebabnya ternyata ada perempuan bule nyasar masuk warung. Dara yang sekilas mirip aktris asal Inggris, Emma Watson, ini bikin gempar seisi warung. Dengan dandanan gaun mewah ala selebriti Holywood menghadiri acara penghargaan, perempuan berambut brunette ini langsung jadi sorotan.

Banyak di antara sedikit pengunjung kopi yang mayoritas kaum Adam ini langsung mengambil kesempatan langka ini. Mulai dari sekadar bersalaman, swafoto, meminta alamat Facebook, Twitter, WhatsApp, Line, bahkan pin BBM.

Namun ternyata bule yang masih muda ini cuma sebentar di warung. Perempuan berkulit putih ini langsung ngacir begitu tahu dia salah masuk tempat. Seharusnya dia menghadiri acara bergengsi di lokasi yang tak jauh dari warung. Acara yang khusus dihadiri orang-orang penting maupun orang-orang yang merasa penting.

Tentu saja kedatangan mbak bule yang cuma sebentar ini bikin kesal Gob dan Blok. Karena kedatangannya yang bagai kilat ini, suasana khidmat ngopi jadi sedikit ternoda.

“Siapa sih dia? Aku kan jadi kesel ndak bisa nikmati kopi dengan santai,” ujar Gob ketus.

Embuh, bukan urusan saya…” jawab Blok santai.

“Lagipula ngapain orang-orang mesti heboh melihat bule yang masih kinyis-kinyis ini ujug-ujug nongol di warung!”

Embuh, bukan urusan saya…” jawab Blok santai.

“Seharusnya bersikap biasa saja, lha wong dia itu sama kayak kita kok. Sama-sama manusia. Sama-sama hamba Tuhan. Kenapa mesti kegirangan seperti kejatuhan rintik hujan di tengah kemarau panjang.

Embuh, bukan urusan saya…” jawab Blok santai.

“Kamu menyimak ndak sih? Dari tadi jawabnya begitu melulu?! Kamu juga bikin aku jengkel,” kata Gob masih ketus.

“Eh, jangan kesal dulu. Siapa tahu mbak bule tadi memang Emma Watson,” ujar Blok.

Sopo kuwi, Blok?”

“Halah, kamu ini mosok ndak kenal yang namanya Emma Watson.”

Sekadar diketahui, Emma Watson merupakan aktris asal Inggris. Nama gadis kelahiran 1990 ini mulai melejit saat memerankan salah seorang dari tiga tokoh sentral di film Harry Potter. Pada 2017 ini, perempuan kelahiran Paris itu kembali menjajal kemampuan aktingnya dengan menjadi Belle, karakter utama dalam dalam film Beauty and the Beast besutan sutradara Bill Condon.

“Terus dia mau ngapain tadi kemari?” tanya Gob.

“Ya mungkin dia masih belum bisa move on dari karakter Belle yang dia perankan,” jawab Blok.

Oke, terus piye, Blok?”

“Mungkin saja dik Emma ini sedang mencari The Beast alias si buruk rupa hingga kemari,” ujar Blok mantap.

Blok sedikit yakin perempuan bule yang kebetulan mirip Emma Watson, atau mungkin memang dia, sedang nyasar ke Nusantara. Alasannya tak lain dan tak bukan lantaran mencari sang belahan jiwa. Penyebabnya, bule itu kecewa lantaran sosok yang dia cintai, yang tadinya buruk rupa, berubah berwajah rupawan. Di film Beauty and the Beast, tokoh buruk rupa ini diperankan Dan Stevens.

Menurut Blok, mbak bule ini kadung kesengsem sama The Beast dengan segala bentuknya yang nggak ada rupawan babar blas. Begitu The Beast berubah wujuh jadi tampan, mbak bule itu tentu kecewa. Karena yang dia cintai si buruk rupa, bukannya pangeran yang tampan dan kinyis-kinyis.

Kalau pun mbak bule tadi bukan Emma Watson, Blok yakin perempuan itu merasakan ada kemiripan dengan aktris kelahiran 15 April tersebut. Tentu sudah banyak kabar banyak orang yang terobsesi ingin menjadi sosok yang mereka idamkan. Mungkin hal ini juga menimpa mbak bule yang tiba-tiba nyasar ke warung Mbok Nom barusan. Mereka bakal berusaha keras untuk bisa memirip-miripkan diri, mulai dari bentuk fisik, dengan idolanya tersebut. Bahkan tak menutup kemungkinan mereka ingin mengikuti alur kehidupan sang idola yang mereka ketahui lewat cerita di film.

“Hmmm, terus kenapa bisa dia sampai ke sini, Blok?” tanya Gob mulai tertarik dengan kengawuran Blok.

“Ya mungkin dia juga terinspirasi lagunya Ayu Tingting yang Alamat Palsu itu,” jawab Blok.

“Ke sana kemari mencari alamat, tapi yang kutemui bukan dirinya. Sayaaaang, yang kuterima alamat palsu,” kata Blok sambil mendendangkan lagu yang dipopulerkan biduan asal Depok, Jawa Barat, tersebut.

“Hmmm…” ujar Gob mulai malas menanggapi sahabatnya ini.

“Jangan begitu dong kamu. Bisa jadi mbak bule ini tak kenal menyerah dan terus mencari cintanya, mencari si buruk rupa untuk dijadikan pendamping hidup di dunia,” tegas Blok.

Blok kemudian ikut merenungi nasib mbak bule tadi. Kalau memang benar, kenapa bisa sampai ada orang yang rela pergi jauh demi mencari jodohnya. Lalu pemuda nggak jelas itu membandingkan gadis mirip Emma Watson ini dengan peribahasa ‘Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak’.

“Bisa jadi jodoh mbak bule tadi sudah ada di dekatnya. Karena belum disibak mata hatinya, makanya dia ndak paham bahwa jodohnya yang sejati ada di depan matanya. Hanya karena mengejar sesuatu yang ada di awang-awang, dalam hal ini The Beast, dia justru pontang-panting mencarinya hingga negara kita,” kata Blok.

“Ya, namanya juga jodoh di tangan Tuhan, nanti pasti dia akan dipertemukan dengan belahan jiwanya,” timpal Gob berlagak bijak.

“Tapi bagaimana ya kalau ternyata Tuhan menjodohkan aku dengan mbak bule yang mirip Emma Watson tadi?” tukas Blok sambil memandang ke langit seolah berdoa pada Yang Maha Kuasa agar dirinya benar-benar berjodoh dengan gadis bule tadi.

“Ha ha ha, kamu itu kalau punya angan-angan mbok yang realistis, Blok!” sahut Gob dengan nada mengejek.

“Ya kalau Tuhan sudah berkehendak, mosok aku berani nolak,” jawab Blok sambil tersenyum tersipu malu dan pipinya mulai merona merah.

Heuheuheu, kamu ini terlalu percaya diri, Gob. Secara fisik, kamu memang cukup layak masuk kategori The Beast. Tapi ingat, The Beast itu aslinya pangeran yang kaya raya. Lha kamu? Jelek sudah pasti iya. Kaya? Jangankan kaya, lha wong miskin saja kamu itu belum!”

“Iya, ya. Lalu siapa di sini sosok buruk rupa sekaligus kaya raya?”

“Yang jelas bukan kita!” tegas Blok.

“Heuheuheuheu…” dua pemuda serabutan itu pun menertawai sekaligus menangisi nasib mereka bersama. (dsk/)

Advertisements

Mimpi Kemahalan

Mimpi memang mahal. Perlu usaha yang tak mudah untuk bisa sekadar bermimpi. Cuma satu syarat mimpi, yakni tidur. Baru setelahnya bisa kita menuai bunga dalam lelap. Tapi tak sedikit orang yang sulit tidur. Entah karena berat untuk bisa memejamkan mata. Entah pula karena mereka banyak pikiran. Sehingga apa yang ada di otak menghambat hibernasi, meski rasa kantuk sudah terhuyung di titik nadir.

Beruntungnya, atau justru tidak, saya punya ilmu langka, yaitu tidur dan makan tanpa syarat. Dengan kata lain, saya bisa tidur kapan saja tanpa perlu merasa mengantuk. Pun dalam hal santap-menyantap, tidak perlu bagi saya untuk lapar sebagai syarat sahnya makan. Saya bisa tidur dan makan kapan saja. Bahkan saat tidak ada keinginan untuk tidur, saya bisa mengontrol diri untuk segera memejamkan mata.

Begitu sudah terpejam, entah apa yang terjadi di alam mimpi, saya tidak bisa mengontrolnya. Mungkin ada ilmu tertentu agar kita dapat mendapatkan mimpi yang diinginkan. Sebab, mimpi tak jarang begitu acak seperti unsur intrinsik pada sebuah karya sastra. Dari lokasi dan waktu kejadian, tokoh yang muncul di mimpi (kadang orang yang sudah dikenal atau orang asing, bahkan juga orang yang sudah meninggal), sampai alurnya pun tak beraturan. Bahkan akhir cerita dalam mimpi juga tidak dapat ditebak kapan datangnya.

Tadi malam, tepatnya antara Jumat (25/8) malam sampai Sabtu (26/8) pagi, saya mendapati mimpi yang tak biasa. Entah bagaimana awal mula ceritanya, mungkin saya berada di suatu tempat bersama orang yang juga entah dia atau mereka siapa. Yang paling saya ingat adalah tiba-tiba saya berada di suatu restoran khas Padang.

Saat berdiri di depan restoran  ini, saya ingat lembaran rupiah dalam dompet tak seberapa. Sebab saat ini sedang tanggal tua, kenapa di dalam mimpi masih saja ingat hari Agustus sudah senja.  Bedanya, di mimpi saya belum terima gaji. Padahal hari itu, Jumat (25/8) rekening bank atas nama saya baru saja bertambah. Thanks, boss! Heuheuheu.

Kepalang tanggung sudah berdiri di depan jendela besar yang menembuskan pelbagai menu menggiurkan, saya pun melenggangkan langkah untuk masuk ke restoran Padang. Ada yang aneh dengan rumah makan ini, kenapa sepi sekali tak ada satu pun pembeli. Hm, sungguh merugi manusia yang tak pernah atau bahkan tak suka menyantap racikan kuliner asli tanah Andalas itu. Di dalam restoran ini hanya ada dua perempuan yang bertindak sebagai pramusaji.

Sadar diri sedang krisis moneter, saya memesan gulai telur dan es teh manis. Saya duduk. Sejurus kemudian apa yang saya inginkan datang. Nasi yang dibentuk sedemikian menyerupai setengah bola, di pinggirnya berkeliling daun singkong rebus, gulai nangka, sambal hijau, dan gulai telur beserta kuah santannya yang aduhai aduh kolesterolnya. Tak luput dari penglihatan es teh manis dengan es batu silinder, sendok pengaduk, dan sedotan berwarna merah muda (atau hijau? Saya lupa).

Berbarengan saat pramusaji meletakkan piring makan dan es teh manis, perempuan (saya ingat persis) berbadan pendek, gembrot, rambut keriting sebahu, kulit sawo terlalu matang, dengan wajah berhiaskan beberapa titik jerawat, dan berkaus pink ini sekaligus meletakkan secarik bill. Lalu gadis yang saya yakin belum genap berusia 25 tahun itu berlalu.

Hm, saya penasaran juga dengan apa yang tertuang pada kertas tagihan itu. Pada tulisan bill itu, total biaya makan saya di situ sebesar Rp 700 juta (tepatnya berapa saya lupa). Mata saya langsung terbelalak! Tapi masih di dalam mimpi, kalau terbelalak di dunia fana, bunga tidur barusan langsung buyar. Bagaimana bisa seporsi nasi dengan lauk gulai telur plus es teh manis banderolnya melebihi salah satu mobil impian saya saat ini, Toyota Fortuner yang paling gres. Rinciannya saya lupa, yang jelas nasi gulai telur harganya Rp 450 juta lebih, sementara es teh manis dipatok Rp  250 juta sekian.

Nafsu makan saya langsung hilang. Tak tersentuh sama sekali nasi gulai telur dan es teh manis. Protes langsung saya layangkan.

“Mbak, ini serius segini (Rp 700 juta sekian) harganya?” tanya saya.

“Iya,” jawabnya singkat. Ternyata dua pramusaji itu sedari tadi berdiri tidak jauh dari posisi saya duduk.

“Apa-apaan ini! Mana ada nasi gulai telur dan es teh manis total harganya seperti ini?! Kamu gila, ya?” ujar saya dengan nada meninggi sambil berdiri beranjak dari kursi.

“Harganya memang segitu, mas!” sahut dia sambil mendekat.

“Tidak mungkin! Cukup! Aku belum menyentuh nasi gulai telur dan es teh manis, jadi aku merasa belum wajib membayarnya!” kata saya memberi alasan.

“Tidak bisa, mas! Kamu harus tetap bayar!” ucap dia sambil semakin mendekat.

“Pokoknya aku tidak mau bayar! Titik!”

Kemudian saya langsung melangkah cepat menuju pintu keluar restoran Padang ini. Saya tidak berani menengok ke belakang. Takut kalau pramusaji itu mengejar dari belakang. Cemas juga kalau tiba-tiba dia berteriak menyebut saya maling atau sebutan lain, yang bisa mengundang amukan massa. Tepat tiba di pintu, saya pegang gagangnya. Lalu saya buka, di luar begitu silau dengan cahaya putih yang terang benderang hingga tak tampak apa pun yang ada di luar restoran Padang itu.

Kemudian kaki ini sudah melangkah keluar dari pintu. Saya melihat tangan saya sendiri menutup pintu rumah makan itu dari luar. Lalu saya menoleh ke depan yang masih terlihat semua serba putih. Seper sekian detik setelahnya, saya terbangun dari tidur. Langsung melihat penunjuk waktu di gawai saya, yang menunjukkan masih sekitar jam 04.17 pagi. Azan subuh belum berkumandang.

Badan masih belum terasa puas istirahat. Seketika saya ingin memodifikasi sebaris puisi “Aku” karya Chairil Anwar: “Aku mau tidur seribu tahun lagi…” (dsk/)

Harga Diri Korek Api

36. Harga Diri Korek Api

AWAL mula pertemuan Gob dan Blok ini ketika mereka berdua sedang suntuk dengan kehidupan. Suatu malam kedua pemuda nggak jelas ini dipertemukan di warung kopi Mbok Nom di dekat pusat peradaban Ibukota. Gob lebih dulu tiba di sana.

Lelaki tanggung ini hendak menyalakan rokoknya yang tinggal sebatang. Namun apa daya korek api kesayangannya raib entah kapan dan di mana. Dengan begitu Gob jadi seorang di antara ribuan perokok yang kehilangan korek api di setiap detiknya.

Sudah lumrah ‘kan, korek api jadi salah satu barang yang sering hilang dan (tidak sengaja) dicuri. Bagi seorang perokok aktif, keberadaan barang yang berukuran jari manusia dewasa ini begitu penting. Tentu lintingan tembakau ini tak bisa menyala tanpa adanya barang dengan bahan bakar gas yang dicairkan tersebut.

Dalam keadaan genting seperti ini, pikiran Gob tiba-tiba menjadi kritis. Menurutnya, ada baiknya dibuat Undang-undang terkait pemantik api ini. Jangan pernah menganggap sepele korek api. Meski ukurannya kecil dan harganya tergolong murah, tapi keberadaannya penting banget lho bagi khalayak ramai.

“Siapa terbukti mencuri korek api, baik disengaja maupun tidak, maka akan dikenai sanksi kurungan penjara selama sekian tahun serta denda sebanyak sekian rupiah (tergantung track record tersangka),” kata Gob dalam hati.

Sedangkan pasal yang selanjutnya kira-kira berbunyi begini, “Siapa menemukan korek api yang masih berfungsi harus memberikan barang temuannya tersebut pada pemilik sebelumnya atau perokok terdekat yang sedang memerlukan korek. Jika hal tersebut di atas tidak dilakukan dalam waktu maksimal 1 x 24 jam, maka akan dianggap sebagai tindak pidana pencurian sesuai yang telah diatur dalam pasal sebelumnya.”

Gob tersenyum sendiri menyadari betapa merasa cerdas otaknya malam itu.

“Percuma sok kritis tapi ndak bisa merokok,” pikirnya dalam hati.

Setelah tengok kanan-kiri, baru dia sadari malam itu pelanggan warung kopi Mbok Nom hanya dia seorang. Gob beranjak menghampiri pemilik warung yang seorang wanita paruh baya tersebut. Sial baginya, pemilik warung yang usianya kini mendekati 70 tidak punya korek yang dimaksud.

“Ah, sial betul hidupku hari ini!” katanya ketus sembari kembali duduk di luar warung sembari menyeruput kopi hitamnya yang diramu tanpa gula.

Tak hilang akal, Gob berlagak seolah sedang merokok. Dihisapnya dalam-dalam rokok kreteknya itu. Lalu dia semburkan pelan asap tebal mengepul dari mulutnya. Bahkan sesekali asap itu dia bikin berbentuk lingkaran.

Gob terlihat begitu menghayati dan menikmati rokoknya. Orang-orang yang melintas di depannya merasa aneh melihat tingkah lakunya. Mungkin mereka berpikir Gob merupakan orang gila baru yang kehilangan akal, seperti adegan viral mahasiswa yang mem-bully sejawatnya di kampus. Gob pun tahu orang-orang yang lalu-lalang itu memperhatikannya, namun dia acuh saja dan terus menikmati rokok dalam imajinasinya sendiri.

“Mas, pinjam korek, dong,” tiba-tiba ada yang menghampiri Gob untuk pinjam korek.

Gob tersentak kaget mendengarnya, “Lho, saya ndak punya. Ini saja saya pura-pura rokoknya menyala,” ujarnya.

“Tapi saya bisa lihat itu nyala lho, Mas. Jangan bohong deh. Saya lagi pengin merokok banget nih!” kata orang itu dengan nada mulai meninggi.

Gob semakin mumet kepalanya. Jelas-jelas rokok ini tidak menyala babar blas. Pun, selama ini dia hanya pura-pura bertingkah laku seolah-olah rokok itu terbakar. Kelakuannya ini lantaran Gob tak juga menemukan korek api yang dia butuhkan untuk menyalakan rokoknya. Tapi kenapa ini ujugujug ada orang yang mau pinjam korek dan mengaku melihat rokoknya menyala. Kemudian dia mencoba menjelaskan secara pelan-pelan pada orang baru dilihatnya tersebut bahwa sejatinya Gob memang benar-benar tak punya korek dan lagaknya merokok itu cuma pura-pura.

“Ah, sialan! Baru kali ini aku ketemu orang yang super pelit! Cuihh!!” lelaki muda berbalut kaus hitam polos dan jeans kusut itu seketika pergi menjauh dari pandangan Gob.

Gob terduduk memaku di sana. Masih merasa kebingungan dengan apa yang baru saja dia alami. Sementara kondisi warung mulai berangsur ramai. Meski beberapa kursi di dalam masih ada yang kosong, Gob tetap enggan masuk. Menurutnya, menikmati kopi harus dalam keadaan santai. Jika dalam satu ruangan penuh orang seperti itu, apalagi tidak ada yang kenal satu pun, tentu kenikmatannya bakal  berkurang.

Padahal bisa saja pemuda perantauan ini dapat kenalan baru di dalam warung Mbok Nom. Dengan semakin banyak teman, semakin banyak pula kans bagi Gob untuk dapat kerja. Tapi malam itu dia sedang malas bersosialisasi dengan insan yang lain. Akhirnya Gob menunggu saja sambil menghisap rokoknya yang tak bakal habis karena memang tidak menyala.

“Nih, saya kasih korek api. Biar nanti kalau ada yang pinjam ndak bakal pelit lagi,” tiba-tiba pemuda misterius itu menghampiri Gob lagi.

Gob pun melihat lelaki yang baru ditemuinya itu memegang rokok yang sudah menyala. Tanpa pikir panjang, Gob langsung menyambut korek pemberian lelaki itu dan menyalakan rokoknya.

Halaaaaaah, masih saja kamu ini. Jelas-jelas rokok itu sudah menyala, masih saja kamu berlagak menyalakannya,” ujar lelaki itu lagi.

Matur nuwun, mas. Saya jadi bisa merokok,” kata Gob.

“Jangan berterima kasih padaku. Berterima kasihlah pada dirimu sendiri. Kalau bukan karena sifatmu yang pelit itu, ndak mungkin aku memberimu korek ini,’’ jawab si lelaki itu.

Syahdan, dua pemuda ini duduk santai di depan warung Mbok Nom. Asap rokok yang mengepul dari keduanya semakin menambah warna jalan raya yang sudah penuh dengan asap kendaraan beserta riuh riang knalpot beserta klaksonnya tersebut.

“Eh, mas ini namanya siapa?” Gob mulai membuka percakapan dengan lelaki baik hati yang baru saja memberinya korek api ini.

“Apalah arti sebuah nama,” jawab pemuda ini singkat.

“Halaaah, sok-sokan niru William Shakespeare,” sahut Gob ketus.

Lho, jangan salah! Shakespeare itu teman dekatku! Kutipan yang melegenda itu terinspirasi dari kisah nyata yang aku alami!”

Gob semakin heran dengan pemuda yang baru dia temui ini. Gob semakin yakin lelaki yang duduk di sampingnya itu benar-benar sinting.

Di awal pertemuan, lelaki itu seolah melihat rokok yang dihisap Gob benar-benar menyala. Kini dia mengklaim berteman baik dengan sastrawan asal Inggris tersebut. Mana mungkin penulis kondang kisah Romeo and Juliet itu berteman dengan pemuda yang tampangnya memprihatinkan itu. Lagipula Shakespeare hidup di tahun 1500-an, sedangkan sekarang ini sudah masuk zaman milenium.

Dengan pelan, Gob sedikit  menggeser badannya menjauh dari pemuda tersebut. Belum sempat selesai menjauhkan diri, Gob tersentak lelaki itu berbicara.

Ngapain menjauh? Takut aku rampok?” katanya dengan nada mengejek. Tentu saja perlakuan pemuda itu membuat Gob semakin ketakutan.

“Memangnya kamu punya apa? Aku yakin kamu ndak punya harta berharga!”

“Iya sih…”

That’s why! Ngapain takut kehilangan kalau kamu sudah ndak punya apa-apa lagi!” sela lelaki ini. “Aku juga curiga kamu sudah kehilangan harga diri…”

Gob langsung naik pitam dituduh seperti itu, “Kurang ajar kamu! Mentang-mentang tampangku kayak gini, aku masih punya yang namanya harga diri!”

Halah mbelgedes! Lagipula buat apa di zaman sekarang ini masih punya harga diri?”

“Harga diri itu penting! Di zaman edan ini kita harus wajib waras biar ndak ketularan gila,” ucap Gob.

Preettt! Begitu kamu bilang kamu punya harga diri, secara ndak langsung kamu bisa menjual dirimu. Begitu ada kata ‘harga’, berarti bisa dijual. Camkan itu!” tegasnya.

Gob berdecak kagum dengan ucapan pemuda ini. Akan tetapi dia sudah lelah berdebat soal harga diri. Gob lebih memilih untuk mulai maklum dengan keunikan lelaki itu. Dia pun ingin semakin mengulik pandangan hidup pemuda ini. Namun Gob mau kembali mengajukan pertanyaan pertama yang tadi belum mendapat jawaban yang tepat.

“Baiklah, aku setuju sama kamu. Pertanyaanku yang tadi belum kamu jawab, siapa namamu?”

“Aku sudah lupa namaku sesuai pemberian orang tua dulu. Orang-orang biasa memanggilku Blok,” jawabnya.

“Walaah, kok bisa-bisanya kamu lupa sama nama sendiri? Lalu kenapa namamu jadi Blok?” ujar Gob heran.

“Aku juga ndak tahu kenapa orang-orang memanggilku begitu. Aku juga cuek saja disebut begitu. Lalu namamu siapa?”

“Nama panggilanku Gob.”

Tuh, namamu juga ndak kalah uniknya sama namaku,” ucap Blok.

“Julukanku berganti jadi Gob saat dulu aku…”

“Sudah… sudah… aku ndak mau dengar alasan macam-macam, yang penting aku sudah tahu namamu,” potong Blok.

Selesai berkenalan soal nama, Gob masih penasaran dengan sosok yang baru dia kenal itu. Gob ingin tahu bagaimana bisa Blok melihat rokoknya menyala padahal tidak, bagaimana pula dia begitu percaya diri mengaku sebagai teman William Shakespeare. Jangan-jangan Blok ini memang manusia sakti pilihan yang ditakdirkan bisa hidup di segala zaman.

“Kata kakek buyutku, Mbah Albert Einstein, imajinasi itu penting,” jawab Blok.

Gob geleng-geleng kepala lagi mendengar pernyataan kenalan barunya ini. Menurutnya, imajinasi Blok ini benar-benar luar biasa.

“Berimajinasi ya boleh saja. Tapi mosok sampai kamu bisa melihat rokokku tadi menyala, terus kamu mengaku kenal William Shakespeare, sekarang kamu mengaku keturunan Albert Einstein, wajahmu ini ndak ada paras bule sama sekali,” kata Gob.

“Biarin! Aku juga boleh dong berimajinasi kalau Nusantara ini memang benar-benar negeri yang gemah ripah loh jinawi tata tentrem karta raharja!” tutup Blok. (dsk/)